Islam Hakiki, Menghargai Keberagaman
Berbicara keberagaman, kekerasan, dan toleransi, Islam punya aturan paripurna terkait hal tersebut. Hal ini dapat dibuktikan dari rentang sejarah panjang peradaban Islam memimpin dunia selama 1300 tahun.
Hanya sistem Islam yang mampu mewujudkan semua itu. Sebuah peradaban emas dengan kehidupan yang sejahtera melingkupi semua rakyat, tanpa diskriminasi.
Kisah yang sangat masyhur ditunjukkan oleh manusia mulia, teladan sepanjang zaman, Rasulullah Muhammad saw. Memberi makan seorang Yahudi buta setiap hari. Walau terus diolok-olok, tidak menyurutkan Rasulullah untuk tetap memberi makan si Yahudi tersebut sampai akhirnya sang Nabi wafat.
Selanjutnya sejenak kita menengok Andalusia (Spanyol). Bagaimana negara tersebut ketika berdiri Pemerintahan Islam di sana. Para pemeluk agama yang berbeda-beda dapat hidup berdampingan secara damai, aman dan saling bekerjasama membangun negara dan peradaban Spanyol yang besar.
Andalusia Islam menjadi pusat peradaban dunia yang cemerlang. Ada Al-Hamra, istana indah bercat merah yang terletak di sebuah bukit kecil di kota Granada. Ada Kordoba yang pernah menjadi pusat pengembangan dan pergulatan intelektual dunia. Ada istana Alcazar yang megah, anggun memesona. Di dinding istana ini ada kaligrafi indah bertuliskan la ghalib ill-Allah atau Tiada pemenang kecuali Allah.
Secuil fakta tentang pemerintahan yang berbasis Islam, sudah sangat jelas menggambarkan bagaimana Islam dengan kesempurnaan aturannya. Sehingga, apapun yang berasal dari Islam, pasti akan menuai kebaikan. Begitupun sebaliknya, jika berasal dari selain Islam atau yang diserupakan dengan Islam, akan menuai kerusakan.
Rakyat tidak butuh Moderasi Beragama dan berbagai program implementasinya, karena hal itu akan makin membuat lubang besar untuk terperosok ke jurang kehinaan yang lebih dalam.
Hanya satu solusi dari semua problem hari ini adalah kembali ke sistem Islam kaffah. Sistem pemerintahan yang berasal dari zat yang menciptakan manusia dan seluruh isi semesta, Allah Swt. Wallahualam bis Showab. (*)
Penulis: Dr. Suryani Syahrir, ST, MT (Dosen & Pemerhati Generasi)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.












