Beranda Β» News Β» Prof. Sukri Beri Pandangan Umum RPJMN 2020-2024 Bidang Kesehatan
Prof. Sukri Beri Pandangan Umum RPJMN 2020-2024 Bidang Kesehatan
News

Prof. Sukri Beri Pandangan Umum RPJMN 2020-2024 Bidang Kesehatan

JAKARTA, Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unhas, Prof. Sukri Palutturi, SKM, M.Kes., MSc.PH, PhD, didulat Bappenas melalui Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Kedeputian Pembangunan Manusia, Masyarakat dan Kebudayaan, untuk turut hadir dalam Background Study RPJMN 2020-2024 dibidang Kesehatan.

Dalam kegiatan yang dilaksanakan di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta Rabu (31/10) itu, yang salah satu agendanya pembahasan hasil analisis kewilayahan, Prof. Sukri yang juga merupakan Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kemitraan FKM Unhas tersebut, banyak memberikan masukan terutama indikator status kesehatan, yang menurutnya tidak hanya kematian bayi, kematian ibu tetapi juga indikator inklusif meliputi ibu hamil (KIA), lansia (life expectancy) dan orang cacat (disabilitas prevalence).

Kepada mediasulsel.com Prof. Sukri mengatakan, bahwa dari kajian yang dilakukan tersebut, akan menghasilkan analisis capaian, identifikasi isu strategis dan tantangan, serta rekomendasi arah kebijakan dan strategi pembangunan kesehatan ke depan.

Olehnya itu Prof. Sukri berharap, perlu ada sinkronisasi antar indicator, misalnya indikator prevalensi gizi buruk, Stunting dan sebagainya, sementara tidak diikuti persentase tenaga gizi, demikian pula terdapat beberapa indikator yang sifatnya penyakit menular atau tidak menular dan masalah sanitasi, lingkungan dan air bersih sementara tidak diikuti dengan persentase tenaga kesehatan masyarakat (Sarjana Kesehatan Masyarakat) pada wilayah tersebut.

β€œIntinya perlu ada sinkronisasi antara indikator outcome dengan indikator input, proses dan output, apalagi semangat indikator RPJMN ini adalah bahwa sehat itu jauh lebih baik daripada orang sakit. Karena itu, Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) perlu diperkuat tanpa mengabaikan Upaya Kesehatan Perorangan (UKP), Prevention is much better than cure,” tutup Prof Sukri, yang juga merupakan Ketua Perhimpunan Sarjana dan Profesional Kesehatan Masyarakat Indonesia (PERSAKMI) Sulsel. (*/464ys)