Masyarakat di desa Atakkae percaya bahwa doa yang bacakan oleh sanro sebagai perwujudan penghargaan kepada arwah leluhur dan juga ditujukan kepada Allah SWT. Semata-mata sebagai perwujudan rasa syukur dan juga sebagai permohonan agar Allah SWT. senantiasa memberikan keberkahan dalam hidup masyarakat di desa Atakkae.
Sebelum memberikan sesembahan yang telah disiapkan, sanro akan meminta izin terlebih dahulu kepada arwah leluhur mengenai tujuannya yang ingin memberikan sesembahan tersebut. Meminta izin oleh sanro dilakukan sebagai wujud penghormatan kepada arwah leluhur dari masyarakat di desa Atakkae.
Rangkaian selanjutnya dalam pelaksanaan tradisi mappano’ yang dilakukan di desa Atakkae ialah membawa sesembahan yang telah dipersiapkan sebelumnya ke sungai atau perairan yang disuguhkan kepada arwah leluhur. Sesembahan tersebut disajikan dalam wadah yang disebut dengan lawasoji. Lawasoji yang berisikan sesembahan tersebut kemudian diletakkan di sungai dan mengalirkan sesembahan tersebut.
Menurut masyarakat di desa Atakkae, sebenarnya tradisi mappano’ tidak hanya dilakukan di sungai saja namun bisa juga dilakukan di laut. Namun, karena di desa Atakkae perairannya adalah sungai, maka masyarakat di desa Atakkae melalukan tradisi mappano’ di sungai Karajae.
Tradisi mappano’ menurut masyarakat di desa Atakkae harus dilakukan di perairan, karena tradisi mappano’ memiliki makna sebagai wujud rasa syukur terhadap air, karena air merupakan anugerah yang sangat bermanfaat bagi manusia.
Air menjadi hal yang sangat dibutuhkan mulai dari minum, mandi, mencuci, dan lain sebagainya. Bahkan sungai Karajae yang dijadikan tempat pelaksanaan tradisi mappano’ juga digunakan oleh masyarakat di desa Atakkae untuk mandi dan mencuci.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa tradisi mappano’ yang dilakukan oleh masyarakat di desa Atakkae tiap tahunnya bukan hanya sebagai penghormatan terhadap arwah leluhur namun juga sebagai wujud rasa syukur dan permohonan kepada Allah SWT.
Walaupun banyak masyarakat lain yang menganggap bahwa tradisi mappano’ ini dapat digolongkan sebagai syirik, namun tradisi mappanno’ yang dilakukan di desa Atakkae telah mengalami perkembangan karena telah terdapat wujud rasa syukur dan permohonan kepada Allah SWT. di dalamnya, sehingga masyarakat di desa Atakkae masih melestarikan tradisi mappano’ hingga saat ini. (*)
Penulis: Rasmi (Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Parepare)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.













