Bermata tapi tidak melihat… Bertelinga tapi tidak mendengar… Bermulut tapi tidak berbicara… Berhati tapi tidak bernurani… Sampai kapan begini-begitu?

OPINI – Kata-kata di atas adalah kata yang pas untuk menggambarkan keapatisan pemerintah terhadap permasalahan semuslim kita di Uighur. Sebagai seorang muslim, kita diikat oleh persaudaraan berdasarkan akidah Islam bukan kebangsaan.

Selama masih mempercayai tiada Illah yang berhak disembah selain Allah dan Rasul-Nya maka dia adalah saudara kita.

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu berdamailah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat (QS Al-Hujurat:10)”.

Keapatisan pemerintah terkait masalah Uighur tidak menggambarkan bahwa Negara Indonesia adalah Negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia.

Tapi, penulis bersyukur karena masih ada sebagian masyarakat yang masih peduli akan saudaranya. Di berbagai daerah di Indonesia pun telah menggelar berbagai aksi solidaritas atas penindasan muslim Uighur atas rezim komunis China.

Nicholas Bequelin, Direktur Regional di Amnesty International, memaparkan temuan di situs Amnesti International tentang situasi di Xinjiang pada 19 Desember 2019. Ia telah mewawancarai 400 lebih orang kerabat Xinjiang Tang mengungsi ke luar Negeri.

Mereka menyebut ada penyiksaan di Xinjiang. Amnesty International yang meneliti bukti foto satelit dan dokumen pemerintah China tentang program penahanan (Tempo.co, kamis 19/12/19)

Adapun persekusi massal dan mengerikan yang dihadapi muslim Uighur yaitu sebagai berikut:
  • Menyita AL-Qur’an, sajadah, dan benda menimbulkan keislaman.
  • Masjid diubah menjadi pusat propaganda.
  • Keluarga Uighur harus menerima kehadiran tamu dari partai komunis yang diutus Negara ke rumah mereka.
  • Menikahi secara paksa muslimah Uighur dengan komunis dari suku Han dengan dalih asimilasi budaya.
  • Sekitar 1 juta muslim Uighur di masukkan ke kamp konsentrasi ‘re-edukasi’ didoktrin ajaran komunis dan patriotisme China. Dan masih banyak lagi persekusi yang dialami.

Di balik penindasan tersebut, ternyata Xinjiang yang kaya akan minyak dan luasnya tiga kali dari Sumatera. Sejak dulu Xinjiang merupakan wilayah penting yang diperebutkan.

Dulu Xinjiang merupakan urat nadi perdagangan dunia, karena berada dijalur sutra. Penduduk asli Xinjiang berasal dari ras-ras Turki yang beragama Islam, terutama suku Uighur dan suku Kazakh.

Menurut penulis, adanya penindasan dan pengklaiman wilayah Uighur atas China ini karena adanya sebuah kepentingan “ada udang di balik batu”.

Tapi mengapa disetiap permasalahan yang terjadi yang jadi kambing hitam bahkan korban adalah umat Islam, seperti Uighur, Palestina, Rohingya, Kasymir, Suria dan Negeri muslim lainnya?

Di tengah jeritan dan derita itu terdapat tudingan bahwa ormas Islam terbesar Indonesia dibungkam dengan gelontoran dana dari pemerintah China agar tidak menyuarakan penderitaan muslim Uighur di Xinjiang.

Adapun pernyataan seorang Ust. yang menyinggung masalah Xinjiang dan Uighur. Katanya “Banyak cerita indah tentang Xinjiang, bahkan sahabat saya memiliki pesantren di Xinjiang dengan 1200 santri, diposting di akun instagram pribadinya, pada Rabu (18/12/19) lalu.

Pernyataan tersebut membuat warganet geram dan kecewa karena beliau tidak memihak kepada muslim Uighur.

Selain itu, Indonesia yang katanya mayoritas muslim, seyogianya menjadi garda terdepan untuk membela saudaranya di Negeri-Negeri muslim.

Bukan malah diam tak bersuara. Malahan yang dipersoalkan dari tahun ke tahun di Negeri ini adalah hal yang tidak perlu dipertanyakan lagi.

Karena sudah jelas hukumnya tidak boleh (haram) seperti pengucapan ‘selamat natal’ dan ‘perayaan tahun baru’. Mau sampai kapan kita mempermasalahkan sesuatu hal receh seperti itu tiap tahun, yang tidak berdampak pada perubahan hakiki?

Pada bulan Desember tahun 2004 (15 tahun yang lalu) National Intelelligenci Concil’s (NIC) sebuah lembaga pusat pemikiran jangka menengah dan strategis jangka panjang Amerika Serikat, merilis sebuah laporan yang berjudul, “Mapping the Global Future”.

Dalam laporan ini diprediksi empat skenario dunia tahun 2020. Salah satunya yaitu. A New Chaliphate yakni berdirinya kembali Khilafah Islam, yaitu sebuah pemerintahan Islam global yang mampu memberikan tantangan pada norma-norma dan nilai-nilai global Barat.

Maka dengan prediksi di atas seharusnya kita mempersiapkan diri dan berjuang untuk kehadiran peradaban besar yakni ‘Khilafah Islamiah’.

Karena permasalahan yang terjadi di Negeri muslim ini mustahil diselesaikan dengan hanya kebijakan atau kecaman yang dilakukan oleh PBB dan OKI.

Mereka semua saudara kita, yang tertindas dan membutuhkan sebuah ‘perisai’ yang dapat melindungi hak-hak kaum muslim dan seluruh umat manusia.

Seperti perkataan ketum FPI pada saat orasi di depan KEDUBES China saat mengecam penindasan Uighur “Makanya kita harus berjuang,

Khilafah Islamiah, kita berjuang sama-sama tegakkan, kerjasama atas seluruh negara Islam kuatkan persatuan negara Islam…”. Wallahu a’lam [IRP].

Penulis: Nurul Firamdhani As’ary (Aktivis BMI Makassar)