Gadis berusia 20 tahun ini mengatakan bahwa menjadi penari sangat menyenangkan karena kita dapat melatih kelenturan tubuh hal ini ketika tarian dipersembahkan gerakan tubuh tidak akan kaku. Fuji telah mementaskan beberapa tarian seperti tari kreasi, tari sandeq, tari empat etnis, tari duppa, tari mandar dan tari duppa bugis, pementasannya hanya sebagai media hiburan.
“Selama latihan menari ada tarian yang paling susah ia pelajari yaitu tari kreasi. Tari kreasi yang baru digunakan alasannya tidak pernah ditarikan dan baru dipelajari,” ungkap Fuji.
Persiapan yang harus disiapkan ketika tarian akan dipersembahkan cukup banyak. Menurut Fuji hal-hal yang harus disiapkan seperti make up, baju dan aksesoris serta properti yang digunakan juga harus lengkap.
Membangun komunitas seni
Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin Makassar Nur Ahsan Syakur, selaku pengajar kebudayaan turut menyelenggarakan seni budaya lokal seperti membangun komunitas budaya.
Ia mengaku sebagai mantan presidium orang yang mendirikan sanggar seni budaya, sebagai pemerhati penggeliat seni budaya yang didalam komunitas itu ada berbagai jenis bidang seni.
“Komunitas budaya saya di atas ada komunitas sejarah dan budaya, saya salah satu presidium, mantan presidium orang yang mendirikan sanggar seni budaya desa di sana. Jadi kalau secara umum ya saya ini pemerhati penggeliat seni budaya tapi ya termasuk di dalam sanggar itu ada bidang seni, seni tari ada, bidang seni musik ada, bidang seni kaligrafis, seni lukis ada, bidang seni teater dan lain sebagainya ada bidang fotografi,” urainya.
“Kalau saya tidak salah dulu ya ada itu semua kita optimalkan. Kalau komunitas seni budaya yang disana ada di UKM kalau komunitas sejarah dan budaya juga ada di atas lantai empat di lab, makanya ada lab sejarah dan budaya nah kebetulan saya yang mengorganisir lab budaya dan sejarah di atas,” jelas Ahsan.
Ahsan juga mengungkapkan adanya wacana untuk pelestarian budaya salah satunya diantaranya Fakultas Adab dan Humaniora khususnya Jurusan Sejarah dan Kebudayaan.
Ia mengatakan pentingnya mengembangkan kemampuan-kemampuan mahasiswa-mahasiswa khususnya yang di sejarah kebudayaan untuk menggali budaya-budaya luhur nenek moyang yang kemudian dikembangkan dan dilestarikan.
Terbukti Fakultas Adab dan Humaniora sudah sering mementaskan seni budaya lokal seperti proses penyambutan mahasiswa baru dan penyambutan tamu kunjungan yang ditampilkan para mahasiswa-mahasiswa lama dan panitia-panitia mahasiswa baru menampilkan sisi budaya lokal seperti tarian dan Angngaru.











