Padahal, banyak pihak menilai bahwa drama pengeboman dan bunuh diri yang selama ini terjadi, tidak pernah terbukti secara fair. Mirisnya, pelaku sekaligus obyek penderita kerap kali diidentikkan sebagai sosok seorang muslim.
Ketiga, mengokohkan hegemoni Barat. Sistem kapitalisme yang diadopsi Barat dan hampir seluruh negara di dunia, meniscayakan penjajahan gaya baru (neoimperialisme). Untuk mengokohkan hegemoni di negara-negara jajahannya, mereka (Barat) mencari seribu macam cara agar tetap eksis.
Termasuk meng-injeksi paham Islam moderat yang dibungkus dalam Moderasi Beragama. Karena hanya dengan Islam moderat yang bisa memberi ruang bagi imperialis untuk mengeruk Sumber Daya Alam (SDA) di negeri-negeri muslim. Hal ini bisa terjadi akibat gagal pahamnya umat akan pengelolaan SDA secara benar dalam pandangan syariat Islam kaffah.
Inilah sebagian alasan mendasar rusaknya pemahaman yang dibangun di atas kurikulum pendidikan berbasis sekuler yang dibungkus sangat apik dalam program Moderasi Beragama. Begitupun untuk program turunannya dalam aspek yang lain. Kurang lebih memberikan dampak serupa karena dibangun di atas asas yang sama, yakni sekularisme. Lalu, kurikulum seperti apa yang mampu melahirkan generasi dambaan umat?
Kurikulum Pendidikan Islam Mencetak Generasi Emas
Sistem Islam adalah sebuah sistem dengan seperangkat aturan, termasuk di dalamnya sistem pendidikan. Berbasis akidah Islam, terimplementasi dalam kurikulum dan support system yang sehat. Tujuan pendidikan dalam sistem Islam adalah mencetak generasi berkepribadian Islam, yakni memiliki pola pikir dan pola sikap islami.
Kurikulum dalam setiap jenjang pendidikan dirancang sesuai kebutuhan usia anak. Usia pra sekolah, dimana orang tua memegang peranan sangat urgen dalam menancapkan akidah Islam yang benar. Selanjutnya di jenjang Sekolah Dasar (SD) sampai jenjang menengah atas, terus dikembangkan dan diselaraskan antara pendidikan agama dan saintek.
Tsaqofah asing baru dikenalkan pada jenjang PT. dengan pertimbangan bahwa aspek akidah dan pemikirannya sudah matang, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh paham-paham yang melanggar syariat.
Sejarah telah menorehkan dengan tinta emas produk generasi hasil dari sistem pendidikan Islam. Dalam kurun waktu 1300 tahun lamanya, terlahir generasi emas sekaliber Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Al-Kindi, Al-Razi, dan masih banyak lainnya.
Secara historis dan empiris tidak bisa terbantahkan. Merekalah peletak dasar-dasar ilmu pengetahuan yang hingga saat ini digunakan. MasyaAllah, sebuah gambaran capaian yang luar biasa. Berbanding terbalik dengan produk generasi sistem kapitalisme sekularisme hari ini.
Oleh karena itu, rakyat tidak butuh Moderasi Beragama dalam berbagai program turunannya, termasuk dalam hal kurikulum pendidikan. Jika menginginkan generasi yang mumpuni dalam segala bidang, maka menerapkan sistem Islam kaffah adalah solusi terbaik, karena berasal dari zat Yang Mahabaik. Sebuah sistem kehidupan yang telah terbukti 13 abad memberikan kesejahteraan tanpa batas dan tanpa diskriminasi. Allahu Akbar!. Wallahualam bis Showab. (*)
Penulis: Dr. Suryani Syahrir, ST, MT (Dosen & Pemerhati Generasi)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.












