OPINI – Makhluk amat kecil ini mampu menggegerkan dan buat panik negara-negara di dunia. Corona, berawal di China Wuhan. Saat ini, virus tersebut merengsek masuk ke negara tetangga. Sebut saja, Thailand, Vietnam, Singapura, Jepang dan negara dekat dengan negara asal.

Indonesia: Uighur dan Natuna
Nurmia Yasin, S.S, Alumni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin Makassar. (Foto: Pribadi)

Laporan terbaru menyebutkan lebih dari 77.000 orang di China terinfeksi Covid-19, dan lebih dari 2.600 meninggal. Lebih dari 1.200 kasus telah dikonfirmasi di sekitar 30 negara lain dan ada lebih dari 20 kematian.

Saat ini, corona melebarkan sayap ke Indonesia. Sungguh kabar yang buat masyarakat sangat khawatir akan keselamatannya. Maka, seyogyanya pemerintah harus sigap dan cepat dalam merespon kabar tersebut.

Bahkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan agar tak ada negara yang membuat kesalahan fatal dengan menganggap negaranya akan terhindar dari virus corona atau Covid-19. (WartaEkonomi,2/3/2020).

Sebagaimana yang telah dilansir dari KOMPAS.com bahwa Presiden Joko Widodo mengumumkan adanya dua orang di Indonesia yang disinyalir positif terjangkit virus corona.

Banyaknya korban berjatuhan akibat virus corona membuat negara-negara di dunia melakukan penjagaan ketat. Seperti menyetop dan melarang datang turis luar negeri. Khususnya dari China, tempat negara asal virus corona.

Apa yang dilakukan oleh negara-negara lain, harusnya juga di lakukan oleh pemerintah Indonesia.

Beberapa hal yang dapat pemerintah untuk mengantisipasi jatuhnya korban dan mencegah merebaknya virus ditengah-tengah masyarakat, yakni pertama, pemerintah tidak boleh menerima turis yang disinyalir akan membawa virus tersebut.

Kedua, segala impor yang juga disinyalir akan menularkan virus ditutup aktivitasnya.

Ketiga, menghimbau kepada masyarakat untuk tidak melakukan perjalanan ke luar negeri khususnya di negara yang sudah terjangkit virus corona.

Keempat, melarang masyarakat untuk tidak melakukan aktifitas yang dilarang agama, melarang mengonsumsi makanan yang tidak layak di makan. Karena dalam Islam, mengonsumsi makanan itu bukan hanya halal tapi juga harus thoyyib (baik/layak) dikonsumsi.

Kelima, pemerintah harus menindak tegas dan memberi siapa pun yang berupaya membahayakan masyarakat dengan menyebar virus tersebut.

Setidaknya beberapa hal tersebut dapat dilakukan pemerintah saat ini untuk mencegah jatuhnya korban. Juga mencegah meluasnya virus corona di tengah-tengah masyarakat.

Dalam Islam, nyawa seorang manusia sangat dijaga. Ketika Umar bin Khattab sebagain pemimpin kaum muslim saat itu melihat keledai yang berjalan terseok akibat jalan yang rusak.

Beliau dengan cepat memerintakan untuk segera memperbaiki jalan tersebut. Karena beliau tidak ingin memikul dosa akibat jalan rusak sehingga keledai mengalami kesusahan. Beliau takut akan pertanggungjawaban dihadapan Allah. Khawatir mendzhalimi hewan, apalagi manusia.

Hari ini, masyarakat dihadapkan dengan berbagai macam permasalahan yang pelik. Belum lagi masalah ekonomi yang semakin sulit, seperti harga kebutuhan pokok melambung.

Kondisi perpolitikan negeri yang semakin membingungkan, kasus korupasi, suap dan lainnya. Semuanya seakan serentak menyapa masyarakat.

Dalam kondisi seperti, muncul berita virus corona telah sampai di negeri tercinta. Masyarakat tentu panik, apa yang harus mereka lakukan. Pemerintah sebagai pelayan masyarakat harus menjaga masyarakat dari segala yang dapat membahayakan mereka. Termasuk dari wabah pandemi ini.

Pemerintah ‘wajib’ melindungi masyarakat tanpa menghitung untung-rugi terkait kurangnya turis dan investor. Bahkan pemerintah tidak boleh ‘mengundang’ turis atau investor datang ke Indonesia atas nama keuntungan. Nyawa masyarakat lebih berharga dari semua itu.

Sistem ekonomi kapitalis yang dianut dibnegeri memang sangat mengutamakan keuntungan. Jadi, sesuatu yang lumrah ketika pemerintah ternyata masih membuka jalur kedatangan turis asing.

Bahkan memberi subsidi setiap hotel-hotel agar memberi diskon para pelancong. Upaya ini dilakukan agar para turis tetap mengunjungi wisata-wisata di Indonesia. Miris memang.

Mengakhiri ketimpangan ini dengan memberi peluang kepada sistem yang mampu membari solusi yang komprehensif. Mampu mengatasi ketimpangan ekonomi, politik hingga terjadinya wabah pandemi khususnya virus corona ini.

Aturan yang berasal dari pencipta manusia, alam semesta dan kehidupan. Mampu mengatur secara sempurna dan menyeluruh.

Disaat itu, masyarakat hidup dengan keberkahan dan keridhoan Rabb-nya. Bukankah hidup kita, hanya untuk Allah semata?

Seperti dalam firman Allah SWT,

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam. (Al-Ana’m: 162)

Wallahu a’lam bish-shawwab.

Penulis: Nurmia Yasin (Pemerhati Sosial)