Polisi wanita berperan sebagai role model bagi kesetaraan gender.

OPINI—Kutipan di atas adalah ucapan dari Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati saat menghadiri acara The 58th International of Women Police Training Conference (IAWP),  Selasa (9/10/2021).

Menurutnya, kehadiran polisi wanita menjadi inspirasi kesetaraan gender di lingkungan institusi kepolisian. Menkeu menegaskan, wanita tidak hanya berperan bagi keluarga dan masyarakat, tetapi juga memiliki peran penting dalam perekonomian. (liputan6.com, 10/11/2021)

Selain itu, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menegaskan Polri terus memperjuangkan kesetaraan gender di Indonesia termasuk karier Polwan di Korps Bhayangkara.

Listyo menerangkan sejauh ini sejumlah Polwan sudah berpangkat perwira tinggi dan menempati jabatan operasional berisiko tinggi di Polri. (cnnindonesia.com, 8/11/2021)

Konferensi polwan ini mengekspos keberhasilan Indonesia dalam mendudukkan polwan dalam pencapaian target. Yang menegaskan bahwa pembangunan berbasis kesetaraan gender menempatkan perempuan pada resiko tinggi. Dan membahayakan nyawa mereka.

Realitasnya kapitalisme terus mengeksploitasi perempuan demi mewujudkan totalitas hegemoni atas dunia. Karena itu pula, Barat menciptakan ukuran untuk menilai keseriusan setiap negara menggiatkan kesetaraan gender. Alhasil, gaung kesetaraan gender terus diperjuangkan. Tak akan ada habisnya dalam sistem kapitalisme.

Barat mengiming-imingi dunia, bahwa jika perempuan memiliki peran identik dengan laki-laki di lapangan kerja, hal itu bakal meningkatkan PDB global pada 2025 sebesar 28 triliun dolar. Dengan demikian, kapitalisme telah memberi andil kepada penghancuran peran sentral setiap anggota keluarga.

Berbeda dengan kedudukan perempuan dalam Islam yang dilindungi, dijauhkan dari kerawanan dan dijaga kehormatannya.  Pada saat yang sama perempuan tidak dipandang lemah dan tidak berdaya karena penempatan posisi tersebut.

Adapun peran polwan sama sekali tidak untuk menjadi setara dengan pria sebagaimana konsep KG, tetapi lebih pada membantu negara menjalankan fungsinya menerapkan Islam secara menyeluruh ke seluruh pelosok negara Islam.

Allah SWT telah mengatur kehidupan manusia secara adil dan seimbang. Adakalanya Allah SWT memberikan beban yang sama antara laki-laki dan perempuan dengan memandangnya sebagai manusia.

Adakalanya pula Allah memberikan beban berbeda kepada keduanya. Karena sifat dan tabiat khususnya sebagai laki-laki dan perempuan. Namun, dengan adanya kekhususan-kekhususan tersebut tidak bisa dipandang sebagai bentuk diskriminasi syariat islam terhadap perempuan.

Justru hal ini menunjukkan bahwa aturan-aturan Allah SWT sangat manusiawi.  Bahkan, dengan adanya perbedaan-perbedaan inilah keduanya bisa saling mengisi dan melengkapi. Sehingga keduanya dipandang memiliki kedudukan dan tanggung jawab yang sama dalam mewujudkan tujuan-tujuan luhur masyarakat.

Dari sisi kedudukannya sebagai manusia, laki-laki dan perempuan dipandang secara sama. Karena keduanya memiliki akal dan potensi hidup yang sama. Kesamaan inilah yang memungkinkan bagi keduanya diberi beban hukum yang sama. Seperti, kewajiban berikan kepada apa yang wajib diyakini, beribadah, beramar ma’ruf nahy mungkar, menuntut ilmu, mengelola harta dll.

Hanya saja ketika Allah SWT memberikan aturan yang sama, tidak dikatakan sebagai kesetaraan. Akan tetapi memang demikianlah aturan yang diberikan kepada laki-laki dan perempuan. Sebagaimana firman-Nya dalam surah at Taubah ayat 73 yang artinya:

“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.”

Adapun perbedaan peran sosial karena adanya perbedaan jenis, Islam telah menetapkan hukumnya. Bahwa perempuan yang pada faktanya memiliki organ reproduksi yang kemudian memampukan dirinya haid, hamil, melahirkan, menyusui dll. Inilah yang membedakannya dengan laki-laki. Karenanya kedudukan perempuan sangatlah mulia.

Sementara laki-laki diberi peran khusus sebagai kepala keluarga. Dan membebankan kewajiban nafkah kepadanya. Perbedaan-perbedaan ini tidak dipandang sebagai pengistimewaan yang satu dari yang lain. Atau diskriminasi Islam atas kaum perempuan. Melainkan disinilah letak keadilan Islam.

Namun, Islam tidak melarang perempuan mengambil peran sosial ditengah-tengah masyarakat. Selama tidak meninggalkan peran utamanya sebagai ummu wa rabbatul bayt dan berjalan dalam koridor syariah. Diantaranya menjadi perawat, dokter, polisi wanita dan sebagainya. Wallahu a’lam. [*]

Penulis: Hamsina Halik (Pegiat Literasi Revowriter)

***

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.