OPINI—Kampus memang menjadi tempat berkumpulnya para intelektual. Berbagai hasil teknologi dan riset yang terus dikembangkan, sangat urgen dalam membangun kemandirian bangsa. Kampus juga berperan dalam mencetak generasi unggul berkarakter pemimpin.

Oleh karena itu, berbagai kebijakan kampus mesti terikat dengan visi pendidikan yang jelas, yakni membangun peradaban gemilang. Kelemahan dalam menetapkan visi pendidikan, menyebabkan kampus kehilangan arah.

Dalam rangka menyiapkan lulusan pendidikan yang tangguh dalam menghadapi perubahan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim kembali meluncurkan program Merdeka Belajar–Kampus Merdeka (MBKM).

Konsep kebijakan ini bahwa kampus bisa bekerja sama dengan bermacam-macam lembaga untuk membuka prodi baru. Lebih lanjut, Mendikbud menjelaskan bahwa kerja sama dengan organisasi mencakup penyusunan kurikulum, praktik kerja atau magang, dan penempatan kerja bagi para mahasiswa.

Artinya, keberadaan lembaga mitra (pihak industri) bukan hanya menyediakan lapangan pekerjaan, namun turut andil dalam penyusunan kurikulum kampus.

Semua kampus kini sibuk mengejar implementasi kampus merdeka. Kampus terus mencari peluang kerjasama dengan industri ataupun perusahaan demi kelancaran pendidikan vokasi. Pertukaran mahasiswa juga sangat massif. Program kampus diselaraskan dengan kebutuhan pasar industri.

Padahal, seharusnya pendidikan fokus pada pengembangan ilmu yang bermanfaat untuk umat. Bukan hanya, menghasilkan tenaga kerja terdidik atau bahkan produk yang siap dipasarkan. Karena semua ini akan menjajah potensi intelektual.

Paradigma Kapitalisme

Sejatinya pendidikan diharapkan menjadi problem solving untuk semua persoalan bangsa yang multidimensional. Namun, banyaknya para ahli dan lulusan perguruan tinggi belum berkolaborasi positif dengan persoalan umat. Karena, dunia kampus justru diarahkan untuk mencetak tenaga kerja sesuai kebutuhan industri. Potensi intelektual kemudian terkooptasi untuk kepentingan korporasi asing.

Lalu, bagaimana membangun bangsa yang mandiri? Sementara kurikulum kampus mengikuti arahan dunia kerja. Target pendidikan hanya sebatas lulusannya terserap dunia kerja.

Maka, penting untuk mengembalikan peran pendidikan sebagai pencetak generasi cerdas. Intelektual yang tidak hanya menguasai ilmu kepakarannya, namun menyadari kemanfaatan ilmunya di tengah-tengah masyarakat. Bahwa, penelitian yang mereka lakukan seharusnya disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

Negara kita membutuhkan para intelektual pemikir yang siap menjadi pemimpin terbaik di masa yang akan datang, bukan sekedar pekerja di bawah kendali negara lain.

Kegagalan pendidikan dalam mencetak generasi pemimpin, tidak lepas dari pengaruh penerapan sistem sekuler kapitalisme yang diadopsi negara kita. Sistem ini menjadikan materi sebagai orientasi pendidikan.

Liberalisasi pendidikan pun tak terelakkan. Output pendidikan hedonis, individualis, liberalis dan materialistik. Oleh karena itu, perbaikan pendidikan haruslah dengan mengubah paradigma pendidikan.

Mewujudkan pendidikan yang berdaya saing tinggi, meniscayakan visi negara yang kuat, mendunia dan independen. Maka, negara harus merancang sistem pendidikan yang berkualitas secara mandiri. Negara harus bertanggung jawab penuh dalam pelaksanaan pendidikan. Mulai dari pembuatan kurikulum, penyediaan sarana dan prasarana.

Pengelolaan Pendidikan Tinggi dalam Islam
Umat islam pernah mencapai masa kegemilangan selama 13 abad lamanya, saat negara menerapkan islam kaffah dam kehidupan.

Saat itu, perguruan tinggi di negara islam menjadi perguruan terkemuka di dunia. Bahkan menjadi sumber rujukan literatur dunia. Pada masa pemerintahan kekhilafahan Andalusia misalnya, jika ada literatur asing yang belum bisa diselesaikan maka bertanya pada kekhilafahan di Andalusia.

Adapun rahasia keberhasilan sistem pendidikan islam karena dibangun atas dasar aqidah islam. Output pendidikan, terus menghasilkan para ahli sekaligus ulama. Sistem pendidikan islam diarahkan untuk membangun peradaban islam. Berbagai jenjang pendidikan tinggi dalam Negara Islam berkonstribusi dalam meninggikan peradaban Islam. Sehingga Islam menjadi mercusuar peradaban dunia.

Pendidikan tinggi dalan negara khilafah dirancang untuk mencapai tiga tujuan pokok yaitu,

  1. Memfokuskan dan memperdalam kepribadian Islam murid pendidikan tinggi, yang telah dibangun dengan sempurna pada level pendidikan sekolah, dan mengangkat kepribadian ini untuk menjadi pemimpin yang menjaga dan melayani persoalan vital umat.
  2. Membentuk gugus tugas yang mampu melayani kepentingan vital umat. Termasuk kepentingan vital umat adalah mengamankan kebutuhan pokok, seperti air, makanan, akomodasi, keamanan dan pelayanan kesehatan
  3. Mempersiapkan satuan tugas yang dibutuhkan untuk melayani umat dalam urusan dengan hakim,ahli hukum, dokter, insinyur, penerjemah, akuntan, perawat dan sebagainya.

Sebaik-baik ilmu adalah yang bermanfaat untuk kemaslahatan umat. Oleh karena itu, solusi untuk memajukan pendidikan dengan menerapkan sistem pendidikan islam yang telah terbukti meninggikan peradaban manusia. Wallahu a’lam bishshowab. (*)

Penulis: Irmayanti, SPd (Praktisi Pendidikan)

*************************

Dislclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.