Penistaan Terhadap Syari’at, Islam Solusinya

Penulis: Asiah Muin, S.Pd (Kontributor Media Gowa)

0
38

OPINI—Kembali lagi terjadi Penghinaan terhadap Islam, seolah-olah tidak ada henti-hentinya dari masa ke masa. Setiap tahun pasti terjadi penistaan agama islam dengan berbagai bentuk yang berbeda-beda, baik terjadi didalam maupun luar negeri.

Baru-baru ini, sebuah video pendek di sosial media memperlihatkan para santri sedang mengantri vaksin covid 19, video ini menimbulkan kemelut bukan karena persoalan vaksin yang sampai hari ini masih kontroversi dikalangan masyarakat, tetapi karena di video tersebut para santri sedang menutup telinga saat diperdengarkan alunan musik barat ketika berada di ruangan antri.

Sebagaimana dilansir oleh www.Merdeka.com, (15 September 2021),  Beredar sebuah video  reaksi dari para santri penghafal Alquran saat mendengar alunan musik yang tengah bergema. “Mereka menutup telinga sebagai cara yang tak wajar.” ungkap Diaz Hendropriyono. Tanggapan Diaz turut menyeret presenter kondang Deddy Corbuzier berkomentar.

Diaz Hendropriyono mengunggah sebuah video pendek yang memperlihatkan saat sejumlah santri tengah menunggu giliran untuk vaksinasi Covid-19. Dalam unggahan Diaz, potongan video tersebut kemudian disambung-sambungkan dengan sejumlah video sekumpulan pria Arab berbaju gamis tengah menari, berdansa sambil menikmati musik.

Putra mantan kepala BIN Jenderal TNI Purn. AM Hendropriyono itu bahkan menyebut para santri tersebut sudah salah diberikan pendidikan sejak kecil. Tak ada salahnya untuk sedikit bersenang-senang. Unggahan serta komentar itu seketika membuat warganet meradang. Warganet menyebut, para santri memiliki cara sendiri bagi mereka untuk menentukan pilihan. Saat memilih menjadi penghafal Alquran, mereka bakal berhati-hati dengan sumber suara yang berpotensi mengganggu hafalan.

Menjaga Hafalan Alquran, Salahkah?

Ketua PP Muhammadiyah, Dadang Kahmad menuturkan, tak ada salahnya atas sikap para santri yang memilih untuk menutup telinga saat mendengar alunan musik. Setiap orang seharusnya paham dengan konsep toleransi jika ingin membangun negara demokrasi.

Dia mengatakan, Islam mengajarkan untuk saling menghargai pendapat orang.  Salah satu kesombongan yang tidak disenangi oleh tuhan. Agama apapun tidak menyenangi kesombongan. Kita jangan sampai memperolok, merendahkan orang. Hargai kesenangan orang, minatnya. “Itu kalau mau demokrasi ya,” katanya. Merdeka.com, (15 september 2021)

Alquran merupakan kitab suci umat Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril. Tujuan diturunkannya Alquran antara lain adalah sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, menjadi kabar gembira sekaligus peringatan, dan sebagai penyembuh.

Membaca Alquran dapat mendatangkan pahala yang luar biasa. Rasulullah SAW bersabda: “Siapa saja membaca satu huruf dari Kitab Allah (Alquran), maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya.” (HR. At-Tirmidzi).

Selain membacanya, umat Muslim juga dianjurkan untuk menghafal Alquran. Sebab menghafal Alquran membawa banyak kebaikan dan manfaat diantaranya yaitu, Alquran akan menjadi penolong, meninggikan derajat seorang muslim di Surga, mendapatkan penghargaan khusus dari Nabi Muhammad, orangtua Hafiz Quran akan mendapat kemuliaan.

Tentunya dengan menjadi seorang penghafal maka keutamaan-keutamaan ini bisa diraih. Sehingga bukanlah suatu kesalahan jika sikap mereka menutup telinga saat mendengarkan musik, karena salah satu cara mereka menjaga hafalannya. Justru kesalahan terdapat pada sikap orang-orang yang mengolok–olok para penghafal tersebut.

Lebih dari itu Alquran bukan sekedar untuk dibaca dan dihafalkan, tetapi kaum muslim diwajibkan untuk mengamalkan seluruh isinya. Karena kandungan dari setiap ayat dalam Alquran merupakan aturan hidup bagi kaum muslim.

Maka dari itu jika ada menghina Alquran beserta isinya, dan menghina Rasulullah utusan Allah yang membawa Alquran maka itu merupakan penistaan terhadap Rasulullah SAW. dan syari’at yang dibawanya.

Seperti dilansir di (Okezone.com, 17/09/2021),  penistaan terhadap agama pun  dilakukan oleh youtuber M Kece yang dihukum karena penistaan agama, dalam akunnya dia menyebut ajaran nabi SAW sesat, mengatakan nabi Muhammad SAW dekat dengan jin, mengatakan muslim menyembah berhala dan lain- lain.

Tersangka kasus dugaan UU ITE dan penodaan agama Muhamad Kosman alias Muhammad Kece diduga telah dianiaya oleh tahanan lainnya di Rumah Tahanan (Rutan) Bareskrim Polri, Jakarta Selatan. M Kece ditangkap pada Selasa 24 Agustus, malam sekira pukul 19.30 WITA di Banjar Untal-Untal, Kuta Utara, Bali. Lokasi itu, kata polisi, merupakan tempat persembunyiannya M Kace.

M Kece dijerat dengan pasal sangkaan berlapis terkait dengan pernyataannya yang dinilai telah melukai hati umat beragama. Dalam hal ini, ia terancam hukuman penjara hingga enam tahun.

Penyidik menjerat pasal dugaan persangkaan ujaran kebencian berdasarkan SARA menurut Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) hingga penistaan agama. Dalam hal ini, M Kece dipersangkakan Pasal 28 Ayat (2)  Pasal 45a Ayat (2) UU ITE atau Pasal 156a KUHP.

Penistaan Islam dari masa ke masa: Buah Sekularisme

Didalam Islam terdapat perbedaan pendapat terkait mendengarkan musik. Mendengarkan musik belum tentu maksiat. Tapi bagi penghafal alquran musik yang bisa menghilangkan hafalan Alquran mereka adalah sesuatu yang fatal. Tentunya wajar jika mereka sangat wara’ (berhati-hati) dalam menjaga hafalan Alquran  mereka. Jika ada yang mengolok–olok dengan alasan apapun merupakan suatu penghinaan.

Terlebih lagi jika yang dihina adalah kekasih Allah, yaitu Rasulullah SAW. Manusia yang dimuliakan oleh Allah dengan jaminan surga. Sesak rasanya di dada ketika baginda Nabi di hina atau di lecehkan.

Kasus yang terus berulang ini jelas menunjukkan adanya masalah besar. Bentuk penghinaan dan penistaan yang beragam, mulai dari menghina Rasulullah, menghina simbol-simbol Islam, hingga penghinaan terhadap ajaran ajaran islam terus terjadi dari masa ke masa.

Terkait penistaan islam sering muncul sikap dan respon yang salah kaprah dan keliru. Diantaranya mengganggap enteng masalah, menganggap hanya candaan atau tidak sengaja, bahkan kasus yang ada malah digunakan untuk menyebarkan ide ide menenangkan misalnya seruan umat islam untuk sabar, umat islam jangan terlalu fanatik, umat islam harus memperluas toleransi dan sebagainya.

Penanganan kasus juga hampir tidak pernah tuntas. Tidak ada pula hukuman yang bias membuat efek jera, jika pelaku sudah minta maaf seolah-olah permasalahan selesai. Bahkan jika ada yang sampai di penjara tidak bisa memberikan efek jera agar kasus seperti ini tidak terjadi lagi.

Semakin massifnya penghinaan terhadap islam membuat kita berfikir mengapa hal ini terus terjadi. Suatu penghinaan bisa terjadi karena dua faktor.

Pertama : Faktor kelemahan berfikir terhadap fakta yang terjadi, sehingga begitu mudah mengstigmatisasi buruk ajaran islam. Kedua: Faktor kebencian terhadap syariat karena dorongan media-media barat yang menyudutkan islam dan kaum muslimin.

Kedua faktor pendukung tersebut tidak akan lahir kecuali di dalam kehidupan Sekulerisme, yaitu faham yang memisahkan urusan dunia dari aturan agama, di seluruh sendi kehidupan. Sekularisme menjadi asas bagi liberalisme yang diwujudkan dalam kebebasan berperilaku (freedom of behavior) dan berpendapat (freedom of speech) yang dijadikan dasar untuk melakukan penghinaan terhadap islam, sehingga makin suburlah penghinaan terhadap islam.

Faham sekularisme menjadikan kebebasan berpendapat sebagai dalih untuk menyudutkan islam. Sehingga wajar saja para penganut faham ini ramai-ramai menistakan islam. Sayangnya negara tidak mengambil alih fungsi perlindungannya terhadap para penganut agama, khususnya kepada islam dan kaum muslimin. Syariat islam selalu mereka jadikan bahan olok-olokan untuk mencari kelemahannya. Mirisnya negara hanya diam.

Sanksi Tegas menghentikan penistaan terhadap Islam

Islam adalah agama mulia dan memuliakan penganutnya. Islam pun rahmatan lil ‘alamin. Imam Ath Thabari Menceritakan bahwa ketika rasulullah pergi ke Tabuk , beliau lewat di depan sekelompok orang munafik, mereka berkata dengan sesama mereka.

“lelaki ini (Muhammad) ingin menakhlukan istana Syam dan benteng benteng nya . Mustahil, mustahil!”.

Kemudian Allah SWT memperlihatkan hal tersebut kepada nabi. Nabi SAW lalu mendatangi mereka dan berkata ,”kalian telah mengatakan demikian dan demikian, bukan?”mereka menjawab, “sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan main- main”.

Lalu turunlah firman_Nya

وَلَىِٕنْ سَاَلْتَهُمْ لَيَقُوْلُنَّ اِنَّمَا كُنَّا نَخُوْضُ وَنَلْعَبُۗ قُلْ اَبِاللّٰهِ وَاٰيٰتِهٖ وَرَسُوْلِهٖ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِءُوْنَ. لَا تَعْتَذِرُوْا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ اِيْمَانِكُمْ  اِنْ نَّعْفُ عَنْ طَاۤىِٕفَةٍ مِّنْكُمْ نُعَذِّبْ طَاۤىِٕفَةً ۢ بِاَنَّهُمْ كَانُوْا مُجْرِمِيْنَ

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, niscaya mereka akan menjawab, Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah, “Mengapa kepada Allah, dan ayat-ayat-Nya serta Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”  Tidak perlu kamu meminta maaf, karena kamu telah kafir setelah beriman. Jika Kami memaafkan sebagian dari kamu (karena telah tobat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang (selalu) berbuat dosa.” (QS at-taubah [9]:65.

Tidak ada perbedaan pendapat diantara ulama bahwa hukuman bagi penghina Islam adalah hukuman mati atas dirinya jika dia tidak mau bertaubat. Jika dia bertobat, gugurlah hukuman mati atas dirinya, hanya saja negara tetap memberikan pelajaran kepada pelaku sesuai dengan ketetapan khalifah.

Dengan memperhatikan tingkat penghinaannya. Ulama dari kalangan syafiiyah , menyatakan bahwa pencaci Allah dan rasulnya (termasuk risalah yang dibawa rasul) jika bertobat, tobatnya diterima, tidak dihukum mati, namun tetap diberi pelajaran dengan cambuk 80 kali.

Dengan sanksi yang tegas orang yang memiliki kedengkian  dalam hatinya terhadap Allah, Rasul, Dan Agama Islam tidak akan sempat menularkan penyakit kepada orang lain.

Jika para penista agama tidak diberikan sanksi sebagaimana sanksi dalam islam, maka dipastikan penistaan akan terus berulang kepada islam dan kaum muslimin. Akar masalah dari masalah ini yakni sekularisme, harus dicerabut dari akar-akarnya dan dicampakkan dari kehidupan manusia. Hadirnya Islam akan menghilangkan persoalan penghinaan terhadap islam dan kaum muslim. Wallahu a’lam bi ashawab. (*)

Penulis: Asiah Muin, S.Pd (Kontributor Media Gowa)

***

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.