Pandangan Islam
Islam memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh agama lainnya. Islam adalah agama sekaligus ideologi. Perannya tidak hanya mengatur tentang spiritual namun juga bersifat politis.
“Kami telah menurunkan kepadamu kitab ini (Al-Qur’an) untuk menerangkan semua perkara (An-Nahl : 89).”
Islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia; mengatur ritual, spiritual, politik, ekonomi, pendidikan, peradilan, sosial, budaya, pertahanan dll. Dalam bidang politik, Islam mengatur urusan ummat dengan aturan-aturan Islam baik dalam maupun luar negeri.
Aktivitas politik dilaksanakan oleh rakyat dan negara. Jadi, politik dalam Islam adalah mengurusi urusan ummat, bukan seperti politik dalam demokrasi yang berorientasi pada kekuasaan dengan mengabaikan aturan dari Allah SWT.
Aktivitas politik dalam demokrasi tidak mengenal halal dan haram. Hukum-hukum buatan manusia menjadi prioritas dibanding hukum-hukum Allah SWT. Sehingga, berharap pada demokrasi bukan langkah yang tepat karena kedaulatan bukan ditangan syara’ melainkan di tangan rakyat.
Sedangkan rakyat hanya manusia biasa yang tidak berhak membuat hukum, karena itu adalah kemaksiatan sebab mengemilinasi hukum-hukum yang telah Allah SWT tetapkan.
Dalam bidang ekonomi, Islam telah mengatur kepemilikan, pengelolaan dan pemanfaatan hak milik, dan distribusi kekayaan. Kepemilikan dalam Islam adalah izin dari pembuat syariah kepada seseorang atau sekelompok orang atau negara untuk memanfaatkan suatu barang.
Kepemilikan dibagi menjadi 3 (Kepemilikan individu, umum, dan negara). Dalam kepemilikan umum, negara boleh mengelola dan mengatur pemanfaatannya. Hasil dari pengelolaan ini dikembalikan kembali kepada masyarakat dalam fasilitas-fasilitas umum termasuk pembangunan/ infrastruktur.
Sehingga, dengan berdasar pada ideologi Islam dalam mengatur kehidupan adalah solusi yang hakiki dalam mengatasi persoalan ummat. Bukan, ideologi kapitalisme yang hanya mementingkan para oligarki. Tidak pro terhadap rakyat melainkan pro kepada para kapitalis. Tidak melahirkan solusi hakiki namun hanya solusi tambal sulam yang makin memperumit persoalan.
Maka, perjuangan mahasiswa terutama mahasiswa muslim dalam menyeruakan aspirasinya tidak berharap pada sistem demokrasi. Namun, memperjuangkan syariat-syariat Islam agar mampu diimplementasikan dibawah naungan Islam yang menjadi rahmatan lil alamin. Wallahu a’lam bis shawab. (*)
Penulis: Andi Sriwahyuni, S.Pd (Penikmat Literasi)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.













