“Tidak ada kata yang mampu terucap untuk menunjukkan rasa keprihatinan yang sangat mendalam akan peristiwa tragis ini. Sungguh merupakan aib besar bangsa ini, bahkan malapetaka dahsyat. Peristiwa ini menunjukkan betapa bobroknya negara ini dalam mengurus rakyatnya, sampai-sampai terjadi tindak kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur yanag dilakukan oleh tiga anak berusia 8 tahun,” ungkapanya (MNews.net, 21/1/2023).
Ia memandang, masalah ini tamparan keras bagi semua pihak, baik keluarga, masyarakat, institusi pendidikan, dan terlebih lagi negara.
Digitalisasi Tanpa Kontrol
Dunia digital semakin tak terbendung lagi, informasi makin mudah di akses suapa saja termasuk anak-anak. Tontonan tersajikan baik yang berbau edukasi hingga berbahaya bagi anak berseleweran di layar kaca. Digitalisasi bagai dua mata pisau. Sebab, tayangan di layar kaca dibanjiri dengan tontonan tak beredukasi.
Tayangan yang berbau pornografi, kekerasan dan kejahatan, tayangan yang mengumbar aurat, memerlihatkan gaya hidup bebas, kehidupan glamor. Jika tayangan ini bebas diakses anak-anak tiap hari tanpa pengawasan dan kontrol yang ketat. Maka anak-anak mudah terpengaruh dengan akan meniru apa yang ditontonnya.
Mengapa tayangan seperti itu masih ada? Sebab kontrak masih jalan. Cuan masih menggalir deras dari para pengusaha. Begitulah, hidup di negara yang bersistem kapitalisme sekuler semua diukur dengan materi. Jadi, sulit untuk lepas dari bayang-bayang sistem kapitalisme sekuler ini.
Kapitalisme Sekuler Biang Masalah
Hidup manusia di sistem kapitalisme sekuler memang sangat menyedihkan. Sebab, semua diukur dengan keuntungan tanpa memperhatikan lagi nilai-nilai agama.
Sehingga penanam agama terhadap anak lemah dan rapuh. Ditambah lagi, ibu sebagai pendidik pertama bagi anak-anaknya pun harus terpaksa keluar bekerja membantu ekonomi keluarga.
Ayah yang menganggur disebabkan tidak adanya lapangan pekerjaan. Disisi lain, kebutuhan serba mahal dan pemasukan justru ‘terjun bebas’. Kebanyakan keluarga harus menghadapi kondisi seperti ini. Bagaimana nasib anak dalam keluarga?
Disekolah pun demikian, kurikulum yang digunakan jauh dari akidah. Malah penanam agama dikurangi sekali seminggu hanya 2 jam.
Disisi lain, gencarnya ide-ide merusak anak bebas berseleweran melalui berbagai macam media dan lingkungan tempat tinggal mereka. Sehingga lahir-lah generasi tak tahu arah dan lemah yang cenderung menggandrungi gaya hidup bebas
Sangat penting adanya penanam agama dan pengawasan yang ketat dari orang tua dan di sekolah sangat tetapi tentu peran negara sangat dibutuhkan.












