MAROS—Aisyah Nurul Nisa, atau yang akrab disapa Icha, adalah seorang remaja berusia 16 tahun yang berhasil menjadi anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) di tingkat kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Kisah perjuangan Aisyah hingga berhasil meraih prestasi ini penuh inspirasi dan ketekunan, terlebih sebagai seorang anak yatim yang memiliki semangat tinggi untuk mengikuti jejak kedua kakaknya.
Aisyah turut serta dalam upacara peringatan HUT ke-74 Republik Indonesia yang berlangsung pada 17 Agustus 2019, di Lapangan Palantikan, Kantor Bupati Maros.
Sebagai anggota Paskibraka, Aisyah menjadi salah satu pengibar bendera merah putih, suatu kehormatan yang dicapai berkat ketekunannya.
Latar Belakang Keluarga dan Perjuangan Aisyah
Aisyah lahir pada 28 Januari 2003 dan merupakan anak bungsu dari sepuluh bersaudara.
Ia tinggal bersama ibunya, Nurhayati, di Lingkungan Pakalu, Kelurahan Kalabbirang, Kecamatan Bantimurung, Maros.
Kehilangan ayahnya di usia muda membuat Aisyah memiliki tanggung jawab lebih besar dan semakin menguatkan tekadnya untuk meraih impian.
Didukung oleh ibunya yang selalu memberikan dorongan, Aisyah meniti jalannya hingga berhasil terpilih menjadi anggota Paskibraka tingkat kabupaten.
Nurhayati, yang tak menyangka anaknya bisa lolos seleksi, menyampaikan kebanggaannya, “Alhamdulillah, saya sangat bangga meskipun hanya di tingkat kabupaten,” ungkapnya.
Tekad Kuat dan Perjuangan Fisik
Perjalanan Aisyah menjadi Paskibraka bukan tanpa rintangan. Ketika mengikuti seleksi dan latihan awal, Aisyah sempat mengalami demam.
Meski sedang kurang sehat, ia tetap berusaha untuk hadir dalam latihan, menunjukkan tekad yang kuat untuk mewujudkan keinginannya. Dukungan penuh dari ibunya membuat Aisyah tetap semangat dan berlatih dengan giat.
Tinggi badan Aisyah yang mencapai 165 cm menjadi salah satu faktor fisik yang mendukungnya dalam seleksi Paskibraka.
Selain itu, ketekunan dan ketertarikannya pada kegiatan ekstrakurikuler di sekolah memperlihatkan kesungguhannya.
Sosoknya yang ceria dan fokus pada tujuan membuatnya semakin mantap meniti jalan sebagai anggota Paskibraka.
Mengikuti Jejak Dua Kakaknya
Ketertarikan Aisyah untuk menjadi anggota Paskibraka diawali oleh inspirasi dari kedua kakaknya, Asrul dan Asrafil, yang juga pernah menjadi anggota Paskibraka tingkat kecamatan dan kabupaten Maros.
Melihat kakak-kakaknya, Aisyah bertekad untuk mengikuti jejak mereka, dan ia menekuni latihan Paskibraka dengan sungguh-sungguh.
Nurhayati menyebutkan, “Dari situ Aisyah mulai tertarik, dan ternyata ia benar-benar menekuni hingga akhirnya terpilih,” jelasnya.
Harapan dan Cita-Cita ke Depan
Keberhasilan Aisyah menjadi anggota Paskibraka menjadi langkah awal bagi cita-citanya yang lain, yaitu menjadi seorang polisi wanita (polwan).
Ketekunan, disiplin, dan semangat pantang menyerah yang telah ia tunjukkan selama ini diharapkan akan membantunya mewujudkan impian tersebut.
Kisah Aisyah merupakan inspirasi bagi remaja lain untuk terus berjuang dan mengejar mimpi, meskipun dalam keterbatasan. Sebagai anak yatim, ia membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih prestasi tinggi. (*)














