OPINI—Kabar bebasnya Saipul Jamil (SJ) dari jeruji besi menuai reaksi masyarakat. Bukan hanya bebas,  juga aktifnya kembali SJ ke layar kaca. Bahkan, tersiar kabar sebelum bebas SJ sudah mendapatkan job manggung.

Hal ini, semakin membuat masyarakat khawatir sekaligus geram. Pada saat bebas, euforia penyambutan SJ oleh kalangan sendiri dinilai sangat berlebihan disambut bagai pahlawan dengan kalungan bunga seakan mengharumkan nama bangsa.

Sungguh miris, bagaimana mungkin seorang pelaku pelecehan seksual disambut dengan euforia bak pahlawan kesiangan. Bagaimana dengan perasaan korban? Para orang tua yang khawatir dengan anak-anak mereka di luar sana?

Sayang, kekecewaan dan kekhawatiran masyarakat, ternyata belum diapresiasi oleh  pihak pertelevisian dan pemerintah. Akhirnya sebagian masyarakat Indonesia berinisiatif membuat petisi penolakan SJ  “Boikot Saipul Jamil Tampil di TV dan Youtube”.

Menaruh harapan pada pihak pertelevisian untuk menghentikan SJ agar tak bebas wara wiri di layar kaca, bagai pungguk merindu bulan. Sebab sebelumnya, terjadi kasus yang sama di wilayah kerja pertelevisian. Seperti dikutip dari Republika.co.id (2/9/2021). Ketua KPI Pusat Agung Suprio telah merespon dugaan pelecehan dalam lingkup KPI.

“(KPI Pusat) melakukan langkah-langkah investigasi internal dengan meminta penjelasan kepada kedua belah pihak,” kata Agung Suprio sebagaimana dikutip dari  pernyataan sikap KPI Pusat.

Kemudian, KPI Pusat akan memberi perlindungan dan pendampingan hukum serta pemulihan secara psikologis terhadap korban. “KPI Pusat akan menindak tegas pelaku apabila terbukti melakukan tindak kekerasan seksual dan perundungan (bullying) terhadap korban sesuai hukum yang berlaku,” ujar Ketua KPI Pusat menegaskan.

Penyakit laten yang menjijikkan ini telah merusak generasi sejak dulu hingga saat ini. Jelas, meninggalkan trauma berat pada korban. Menabrak nilai agama dengan mengedepankan hawa nafsu tanpa batas.

Dahulu, ada kaum nabi Luth yang lebih dulu aksis dan sekejap mata di azab Allah SWT. Lalu bagaimana dengan saat ini? Melihat respon yang ada, seolah penyimpangan tersebut bukan suatu yang hina.

Buktinya, maraknya kasus-kasus pelecehan seksual hanya berujung sanksi yang tak berefek. Munculnya SJ dan lain-lain dilayar kaca membuktikan, pelaku pelecehan seksual masih bebas berekspresi.

Padahal, layar kaca tidak hanya ditonton oleh orang dewasa, tetapi juga anak-anak dibawah umur Tentunya, hal ini akan berdampak buruk pada perilaku anak. Mencontoh publik figur yang sangat jauh dari nilai agama.

Bagaimana tidak, layar kaca  hanya dipandang bisnis yang menghasilkan keuntungan semata. Nihil edukasi positif, justru menumbuhsuburkan contoh negatif yang membahayakan. Pelaku pelecehan justru disambut dengan sukacita. Paham liberal yang diadopsi negeri ini, memang terkesan memberi lampu hijau pelaku pelecehan seksual. Masih diterima di stasiun televisi dan masih ada penggemar beserta dukungan pada pelaku.

Alasannya klise, bahwa semua pernah salah dan layak untuk dimaafkan. Ya, memang betul, tetapi perlu diperhatikan pengaruh jangka panjang terhadap generasi. Terlebih, nilai agama telah diobrak-abrik tanpa batas atas nama kebebasan. Sehingga wajar, jika negara belum mampu menindak tegas para pelaku pelecehan seksual.

Dalam Islam, pelecehan seksual apapun bentuknya merupakan bentuk maksiat dan pelanggaran hukum syariah. Pelakunya akan dikenai sanksi tegas. Islam melakukan upaya preventif dengan mengontrol segala konten penyiaran. Apakah  sesuai dengan hukum syariah atau tidak. Jika tidak, maka segera akan ditindak dengan tegas.

Di dalam negeri, media berfungsi untuk membangun suasana keimanan masyarakat. Hanya menayangkan acara-acara yang menjaga suasana keimanan masyarakat. Media juga berfungsi edukasi kepada publik terkait segala pelaksanaan kebijakan dan hukum Islam di dalam negara.

Adapun fungsi media di luar negeri adalah untuk menyebarkan Islam. Dalam kondisi damai ataupun perang. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan kemuliaan Islam sebagai ideologi, serta membongkar kedok  betapa buruknya ideologi kufur yang diemban negara saat ini.

Oleh sebab itu, harapan untuk menindak tegas para pelaku pelecehan seksual dan pengontrolan media agar tak menyimpang. Maka, penting  kiranya agar mengambil Islam sebagai acuan. Agar konten dan penyiaran dapat dikontrol sesuai dengan nafas Islam yang sangat bermanfaat bagi masyarakat. Berharap pada sistem kapitalisme-sekuler tak akan pernah akan terwujud sampai kapan pun.

Saatnya kita wujudkan harapan untuk menjadikan media sebagai wasilah dakwah yang menghadirkan konten dan figur-figur yang mampu membangun suasana keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.  Menerapkan Islam secara kaffah dalam semua aspek kehidupan akan mewujudkan harapan bersama.  Wallahu’alam bish-showwab. (*)

Penulis: Nurmia Yasin Limpo, S.S (Pemerhati Sosial Masyarakat)

 

***

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.