OPINI—Realitas ketidakpastian ekonomi global dalam beberapa tahun terakhir menjadi sebuah tantangan serius bagi banyak negara berkembang, termasuk Indonesia. Ketegangan geopolitik, perlambatan perdagangan dunia, fluktuasi harga komoditas, hingga dinamika suku bunga global telah meningkatkan risiko terhadap stabilitas devisa nasional.
Bahkan, Organisasi Perdagangan Dunia atau World Trade Organization (WTO) memperkirakan pertumbuhan perdagangan global mengalami perlambatan akibat meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan juga pengaruh yang signifikan atas kebijakan proteksionisme di berbagai negara.
Dalam situasi tersebut, Indonesia membutuhkan strategi diversifikasi sumber devisa yang tidak hanya bergantung pada ekspor komoditas primer. Salah satu institusi yang memiliki potensi besar untuk mendukung agenda tersebut adalah Bank Syariah Indonesia (BSI).
Sebagai bank syariah terbesar di Indonesia, BSI tidak hanya berfungsi sebagai lembaga intermediasi keuangan, tapi juga menjadi katalis dalam penguatan ekonomi halal, pembiayaan ekspor, serta pengembangan jaringan ekonomi internasional berbas is syariah.
Fondasi besarnya jelas merujuk pada realitas sejarah BSI sebagai bank syariah dengan dukungan penuh dari Bank Syariah Mandiri, Bank Negara Indonesia (BNI) Syariah, dan Bank Rakyat Indonesia (BRI) Syariah.
Sejak penggabungan atau merger tiga bank syariah dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pada 2021, BSI secara nyata berkembang menjadi institusi keuangan syariah terbesar di Indonesia.
Kinerja industri perbankan syariah menunjukkan tren pertumbuhan yang relatif kuat dengan prospek aset yang terus meningkat dan dukungan terhadap pengembangan sektor riil berbasis syariah.
Institusi Strategis
Dalam perspektif ekonomi internasional, devisa merupakan instrumen vital untuk dapat menjaga stabilitas nilai tukar, membiayai impor strategis, serta memperkuat kepercayaan pasar terhadap perekonomian nasional. Namun, struktur devisa Indonesia masih didominasi oleh kerja ekspor komoditas seperti batu bara, kelapa sawit, nikel, dan gas alam.
Ketergantungan yang tinggi terhadap komoditas primer menyebabkan devisa Indonesia rentan terhadap fluktuasi harga pasar global. Ketika harga komoditas turun, penerimaan devisa juga mengalami tekanan. Kondisi ini pernah terjadi pada masa krisis Asia 19971998 maupun pada berbagai episode perlambatan ekonomi global setelahnya.
Douglas North dalam tulisan Institutions, Institutional Change and Economic Performance (North, 1990) menjelaskan bahwa keberhasilan pembangunan ekonomi tidak hanya ditentukan oleh sumber daya alam, tapi juga kualitas institusi yang menciptakan insentif ekonomi yang berkelanjutan (North, 1990).
Dalam konteks ini, diversifikasi sumber devisa menjadi kebutuhan strategis agar ekonomi nasional tidak bergantung pada satu sektor tertentu. Secara analisis, sejak merger tiga bank syariah BUMN pada tahun 2021, BSI berkembang menjadi institusi keuangan syariah terbesar di Indonesia.
Kinerja industri perbankan syariah menunjukkan tren dan juga gerak pertumbuhan yang relatif kuat dengan prospek aset yang terus meningkat dan dukungan terhadap pengembangan sektor riil berbasis syariah.
Keunggulan utama BSI terletak pada kemampuannya menghubungkan sektor keuangan dengan aktivitas ekonomi halal yang terus berkembang secara global.
Menurut laporan berbagai lembaga ekonomi Islam internasional, pasar halal dunia mencakup industri makanan halal, farmasi, kosmetik, fesyen muslim, wisata halal, hingga keuangan syariah dengan nilai triliunan dolar AS setiap tahun.
Dalam kerangka tersebut, BSI memiliki peluang untuk menjadi jembatan antara pelaku usaha Indonesia dengan pasar internasional yang membutuhkan produk dan layanan halal.
Strategi pertama yang dapat diperkuat oleh BSI untuk sekarang ini adalah mendukung ekspor produk halal nasional. Indonesia memiliki keunggulan komparatif dalam sektor makanan dan minuman halal, produk perikanan, produk pertanian, serta industri fesyen muslim.
Melalui pembiayaan perdagangan (trade finance), letter of credit syariah, pembiayaan ekspor, serta layanan treasury syariah, BSI dapat membantu UMKM dan perusahaan nasional menembus pasar Timur Tengah, Asia Selatan, Afrika, dan negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).
Sejarah menunjukkan perdagangan internasional selalu membutuhkan dukungan sistem pembiayaan yang kuat. Accominotti dan Ugolini dalam tulisannya, International Trade Finance from the Origins to the Present: Market Structures, Regulation and Governance. (Accominotti & Ugolini, 2020) menjelaskan perkembangan perdagangan dunia sejak abad pertengahan sangat dipengaruhi evolusi instrumen pembiayaan perdagangan internasional yang mampu mengurangi risiko transaksi lintas negara (Accominotti & Ugolini, 2020).
Dalam konteks modern, peran tersebut dapat dijalankan oleh BSI melalui instrumen keuangan syariah yang kompatibel dengan kebutuhan pasar global.
Strategi kedua adalah dengan optimalisasi remitansi diaspora Indonesia di luar negeri. Jutaan pekerja migran Indonesia tersebar di Timur Tengah, Asia Timur, Eropa, dan Amerika Utara.
Dana remitansi yang mereka kirimkan setiap tahun merupakan sumber devisa yang sangat penting. BSI dapat memperluas layanan remitansi syariah internasional yang lebih cepat, murah, dan sesuai prinsip syariah. Dengan memperkuat kerja sama dengan bank-bank syariah global, BSI dapat menjadi kanal utama arus remitansi diaspora Indonesia.
Pengalaman berbagai negara menunjukkan remitansi merupakan satu sumber devisa yang relatif stabil dibandingkan ekspor komoditas. Oleh karena itu, peningkatan pangsa pasar remitansi menjadi bagian penting dalam strategi diversifikasi devisa nasional.
Digital Syariah dan Hilirisasi
Transformasi digital membuka peluang baru bagi penciptaan devisa melalui ekspor jasa digital. Indonesia memiliki populasi muslim terbesar di dunia yang menjadi pasar potensial bagi pengembangan ekonomi digital syariah. BSI dapat memainkan peran penting dalammendukung startup halal, platform e-commerce syariah, serta industri kreatif berbasis ekonomi Islam.
Perkembangan transaksi digital berbasis syariah menunjukkan bahwa teknologi dan prinsip syariah berjalan secara simultan dalam menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih inklusif. Melalui pembiayaan inovasi digital, BSI berpotensi membantu lahirnya perusahaan-perusahaan teknologi yang mampu menjual jasa dan produk digital ke pasar internasional.
Dalam jangka panjang, ekspor jasa digital menjadi sumber devisa baru yang lebih berkelanjutan dibandingkan ekspor sumber daya alam. Strategi berikutnya adalah memperkuat pembiayaan hilirisasi industri nasional. Selama ini sebagian besar ekspor Indonesia masih berupa bahan mentah atau produk dengan nilai tambah rendah.
BSI dapat mengembangkan skema pembiayaan syariah bagi industri pengolahan kelapa sawit, perikanan, pertanian, mineral, dan sektor manufaktur halal. Dengan meningkatnya nilai tambah produk ekspor, penerimaan devisa nasional juga akan meningkat.
Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa diversifikasi pasar ekspor dan dukungan pembiayaan perdagangan merupakan faktor penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi menghadapi gejolak global
Dari perspektif sejarah ekonomi, negara-negara yang berhasil keluar dari ketergantungan komoditas adalah negara yang mampu melakukan transformasi struktural. Jepang pasca Restorasi Meiji, Korea Selatan pada era industrialisasi, hingga Malaysia melalui pengembangan industri manufaktur menunjukkan pola yang sama: peningkatan nilai tambah dan diversifikasi sumber devisa.
Indonesia saat ini menghadapi tantangan serupa. Ketergantungan pada ekspor komoditas perlu dilengkapi dengan penguatan sektor jasa, ekonomi digital, industri halal, dan pembiayaan perdagangan internasional.
Dalam konteks ini, BSI memiliki posisi strategis karena berada pada persimpangan antara sektor keuangan, ekonomi syariah, dan agenda transformasi ekonomi nasional.
Ketidakpastian global menuntut Indonesia untuk memperluas basis sumber devisanya. Ketergantungan terhadap komoditas primer sejatinya tak lagi cukup dalam menjamin ketahanan ekonomi jangka panjang.
Ketidakpastian global menuntut Indonesia untuk memperluas basis sumber devisanya. Ketergantungan terhadap komoditas primer tidak lagi cukup untuk menjamin ketahanan ekonomi jangka panjang.
BSI memiliki peluang besar untuk berkontribusi melalui penguatan ekspor produk halal, pembiayaan perdagangan internasional, pengembangan remitansi diaspora, dukungan terhadap ekonomi digital syariah, serta pembiayaan hilirisasi industri berorientasi ekspor.
Dengan strategi tersebut, BSI tidak hanya berperan sebagai bank syariah terbesar di Indonesia, tetapi juga sebagai institusi strategis dalam mendukung diversifikasi devisa nasional.
Ke depan, keberhasilan Indonesia menghadapi ketidakpastian global akan sangat ditentukan oleh kemampuan membangun sumber-sumber devisa baru yang berbasis inovasi, nilai tambah, dan ekonomi halal yang kompetitif di tingkat internasional. (*)
Penulis:
Haris Zaky Mubarak, MA
(Analis dan Kandidat Doktor Ilmu Sejarah Universitas Indonesia dan Anggota Pengurus Cabang Muhammadiyah Yogyakarta)
Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.












