Kemerdekaan Hakiki
Merdeka dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah bebas (dari penghambaan, penjajahan, dan sebagainya), berdiri sendiri, tidak terkena atau lepas dari tuntutan serta tidak terikat, tidak tergantung kepada orang atau pihak lain. Jika melihat fakta di atas, maka kita belum layak untuk disebut merdeka.
Saat Islam turun kepada baginda Rasulullah SAW, dunia dieksploitasi dua negara adidaya, Persia dan Romawi. Mereka menjajah, merampok harta, memperbudak dan menyiksa penduduk asli, dan menghancurkan moral manusia.
Hawa nafsu bak tuhan. Manusia tak punya pegangan. Mereka menyembah berhala, alam, manusia juga binatang. Di Mesir, Firaun dipuja dan disembah sebagai tuhan. Di Romawi para kaisar dianggap sebagai titisan dewa yang titahnya tak boleh dilawan.
Pada masa demikian, Islam datang sebagai risalah yang mulia, membebaskan dan memerdekakan umat manusia. Misi pembebasan dan kemerdekaan yang diberikan Islam salah satunya tercermin dari pernyataan Rib’i bin Amir at-Tamimi ra.
Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya, Al-Bidayah wa an-Nihayah, dalam bab Perang Qadisiyah menceritakan kedatangan Sahabat Nabi SAW selaku utusan pasukan Islam, Rib’i bin Amir at-Tamimi ra. Ia menemui Rustum, Panglima Perang Persia. Di hadapan Rustum ia berkata,
“Allah telah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa saja yang Dia kehendaki dari penghambaan kepada sesama hamba menuju penghambaan hanya kepada Allah; dari kesempitan dunia menuju keluasannya; dari kezaliman agama-agama menuju keadilan Islam.”
Inilah misi Islam, membebaskan dan memerdekakan manusia. Bangsa Arab yang semula penyembah berhala, terbagi menjadi beberapa kelas sosial; bangsawan, rakyat jelata dan budak, diubah oleh Islam menjadi umat bertauhid dan setara kedudukannya di hadapan Allah SWT.
Abdullah bin Mas’ud ra adalah seorang dhuafa dan penggembala kambing. Bilal adalah mantan budak Habsyah. Keduanya sejajar dengan Abu Bakar ash-Shiddiq ra dan Abdurrahman bin Auf ra yang bangsawan dan saudagar.
Salah satu bentuk penghambaan manusia kepada manusia adalah menuhankan aturan manusia. Aturan yang dibuat berdasarkan hawa nafsu, baik oleh para raja, rahib, pendeta, dan bangsawan. Mereka menentukan halal dan haram, baik dan buruk. Inilah yang digambarkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya: Mereka menjadikan para pendeta mereka dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah (TQS at-Taubah [9]: 31).
Ingatlah, setiap Muslim wajib menaati hukum Allah SWT, bukan hukum yang bersumber dari hawa nafsu manusia. Allah SWT berfirman: Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak Allah izinkan? (TQS asy-Syura [42]: 21).
Dengan Islam, manusia akan terbebas dari kezaliman dan keburukan agama-agama, ideologi dan ajaran selain Islam. Kaum Muslim dan umat manusia akan mendapatkan kelapangan. Begitulah janji Allah SWT: Jika penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi (TQS al-A’raf [7]: 96).
Hanya Islam yang mampu memberikan kemerdekaan hakiki. Bebas dari penghambaan kepada manusia menuju penghambaan kepada Allah semata. Wallahu a’lam bisshawab. (*)
Penulis: Indah Dahriana Yasin (Ketua Yayasan Cinta Abi-Ummi, Makassar)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.













