Sinetron Remaja Minim Pesan Moral dan Agama

Ilustrasi (foto: pinclipart)
“Cinta adalah kekuatan yang mampu mengubah duri jadi mawar. Mengubah cuka jadi anggur. Mengubah malang jadi untung. Mengubah sedih jadi riang. Mengubah syaiton menjadi nabi. Mengubah iblis menjadi malaikat. Mengubah sakit jadi sehat. Mengubah bakhil jadi dermawan. Mengubah kandang jadi taman. Mengubah penjara jadi istana. Mengubah amarah jadi ramah. Mengubah musibah jadi muhibbah. Itulah cinta.”
Sinetron Remaja Minim Pesan Moral dan Agama
Siti Sopianti (Member Kajian Online MQ Lovers)

OPINI – Pernah menyaksikan film “Ketika Cinta Bertasbih?” Dalam salah satu adegan seorang tokoh Ayatul Husna yang diperankan Meida Sefira mengungkapkan sebuah puisi indah tentang definisi cinta seperti yang tertulis di atas.

Gambaran cinta sungguh indah. Bagaimana tidak, sesuatu yang dianggap buruk akan menjadi baik ketika tersentuh kata cinta. Cinta yang digambarkan dalam puisi tersebut adalah cinta universal. Kepada Alloh Swt, Rasul Saw, kepada para sahabat nabi, kepada orangtua, anak, kepada sesama. Tentunya keindahan itu akan terwujud jika direalisasikan di jalur yang benar dalam bingkai syariat Islam yang diatur Sang Maha Cinta.

Namun amat sangat disayangkan. Cinta yang sering digembar gemborkan manusia pada saat ini identik dengan percintaan antar lawan jenis. Seperti yang dituangkan dalam banyak tayangan televisi seperti sinetron.

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengeluarkan peringatan tertulis kepada sinetron “Dari Jendela SMP”, Karena menyajikan gambaran tontonan yang tidak sesuai dengan psikologi remaja. Alur sinetron tersebut menceritakan tentang pacaran, hamil di luar nikah yang sangat bertentangan dengan budaya ketimuran dan norma agama.

Ada lima pasal Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) yang dilanggar dalam Penyiaran sinetron “Dari Jendela SMP” ini. Pasal yang dilanggar yaitu Pasal 14 ayat (1) dan (2), Pasal 21 ayat (1),Pasal 15 ayat (1), Pasal 37 ayat (1), dan Pasal 4 huruf (a) Standar Program Siaran (SPS) KPI tahun 2012. (Kompas.com.09/07/2020)

Semua tindakan manusia di dunia ini tidak terlepas dari proses berfikir. Termasuk di dalamnya adalah perbuatan remaja muda mudi saat ini. Proses berfikir melibatkan informasi sebelumnya (ma’lumat tsabiqoh).

Berita Lainnya
Lihat Juga:  Menakar Kesiapan Keluarga Menghadapi Era "New Normal"

Berkaitan dengan informasi sebelumnya, tontonan televisi mempunyai pengaruh penting juga dalam pembentukan perilaku seorang remaja. Oleh karenanya perlu ada pengawasan yang ekstra terhadap penayangan televisi.

Sejalan dengan tujuan pengawasan tersebut KPI sebagai lembaga yang mengawasi penayangan di televisi telah berusaha menjalankan perannya. Namun, usaha KPI tersebut akan terkesan sia-sia apabila tidak terjadi kerjasama yang efektif untuk saling mendukung diantara pihak terkait. Seperti negara, produser acara televisi, dan pemilik televisi itu sendiri beserta krunya.

Mengenai sinetron “Dari Jendela SMP” Ketua KPI Agung Suprio mempunyai pandangan, ” Walau terinspirasi dari sebuah novel yang Best Seller di masanya serta mengandung muatan positif mengenai pendidikan s3ks, akan tetapi makna yang ditangkap oleh remaja berbeda jika ditayangkan dalam sebuah sinetron di televisi.” Membaca novel butuh minat yang kuat. Sehingga cerita bisa sampai di relung hati remaja ketika remaja mempunyai minat yang kuat untuk membaca dan itu perlu perjuangan untuk melakukannya.

Namun jika itu ditayangkan di televisi menjadi hal yang berbeda. Menonton TV adalah suatu pekerjaan mudah. Hanya duduk sambil menyimak gambar maka pesan dari apa yang dilihat akan mudah sampai dan diterima oleh alam bawah sadar seseorang, sehingga persepsi anak akan terbentuk dengan mudah. Ketika yang dilihat pacaran. Maka esok hari bisa jadi mereka melakukannya. Karena sifatnya mencontoh dari informasi yang dilihat sebelumnya.

Agung juga berujar agar ini jadi pembelajaran untuk stasiun televisi yang menayangkan sinetron-sinetron yang mengandung unsur negatif. Jangan sampai tayangan televisi mengangkat tema dan mempertontonkan tayangan yang tidak pantas sehingga dicontoh dan dianggap lumrah. Padahal itu bertentangan dengan norma agama maupun asusila.

Lihat Juga:  Koreksi Angka Pertumbuhan Ekonomi Bukan Solusi

Mulyo Hadi Purnomo selaku wakil dari KPI ikut angkat bicara “Seharusnya tayangan terkategori R (Remaja) menayangkan tontonan yang sesuai dengan usia remaja dan mementingkan kondisi psikologis remaja.

Menjamurnya sinetron percintaan di televisi dengan tema dewasa dan mengandung unsur kekerasan yang menjurus pada pelanggaran terhadap norma agama dan asusila itu sebagai bukti bahwa visi misi orientasi televisi dan para produser hanya pada keuntungan materi semata. Lagi lagi sistem kapitalis jadi sumber masalahnya. Televisi menyelektif acara syarat akan nilai jual yang tinggi demi rating dan pemasukan iklan. Begitupun produsen dan para pelaku seni. Selama yang dihasilkan rupiah yang banyak mereka satu sama lain saling mendukung.

Selain sistem kapitalis, budaya sekuler juga sudah mengakar di masyarakat. Saat orang tidak mau melibatkan agama untuk mengatur aktivitas muamalahnya. Mereka menjadikan akal manusia sebagai sumber hukum aturan dalam kehidupan. Standar kebenaran dan kebathilan bukan lagi bersumber dari sang pencipta tapi dari kepentingan manusia. Pencipta hanya diperkenankan mengatur urusan ibadah di rumah-rumah ibadah.

Selain sekulerisme. paham liberal juga berperan penting terhadap hadirnya tayangan televisi yang jauh dari nilai agama. Pacaran, campur baur (ikhtilat), berdua – duaan (khalwat), tontonan dewasa dinikmati remaja merupakan hal biasa yang memanjakan mata masyarakat. Ditambah dengan kurangnya pendidikan agama memicu semua itu terjadi. Sungguh fenomena yang sangat menyedihkan.

Sinetron di televisi banyak menyajikan tayangan pacaran yang jelas-jelas itu melanggar syariat Islam. Bahaya pacaran itu jelas mengancam generasi muda.

“Telah ditentukan atas anak Adam (manusia) bagian zinanya yang tidak dapat dihindarinya: zina kedua mata adalah melihat, zina kedua telinga adalah mendengar, zina lisan adalah berbicara, zina tangan adalah meraba atau memegang (wanita yang bukan mahram), zina kaki adalah melangkah, zina hati adalah menginginkan dan berangan-angan, lalu semua itu dibenarkan (direalisasikan) atau didustakan (tidak direalisasikan) oleh kemaluannya. ” (HR Bukhori Muslim).

Pacaran itu sendiri terkategori perbuatan mendekati zina. Larangan zina itu sendiri jelas tertuang dalam surat Al-Isra ayat 32. “Dan janganlah kamu mendekati zina. (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji dan jalan yang buruk.

Adapun solusi dari semua permasalahan di atas adalah Perlu adanya perubahan sistem yang menjamin keselamatan kehidupan para remaja. Yaitu penerapan hukum-hukum Islam secara menyeluruh. Islam itu agama yang sangat detail. Jangankan masalah persinetronan atau acara televisi yang lainnya, masalah hubungan sesama lawan jenis, cara tidur, makan dan sekecil apapun aktivitas diatur dalam Islam.

Lihat Juga:  Islamophobia (Lagi), Tak Cukup Hanya Kecaman

Dalam sistem Islam ada pilar yang mewujudkan tatanan yang baik menuju pada ketaatan kepada Alloh Swt yaitu ketaqwaan individu, kontrol masyarakat dan peran negara. Jika individunya sudah berusaha taqwa, kontrol masyarakatpun berjalan. Negarapun tak kalah pentingnya dalam menyortir tayangan televisi agar selalu taat sesuai aturan Islam. Dengan begitu negara melarang tontonan berupa aktifitas mempertontonkan aurat, seks bebas, gambar porno dan tabarruj (bersolek) yang mengundang syahwat.

Dengan tegaknya hukum hukum Alloh Swt yang berpedoman pada Al-Qur’an dan sunnah Rasululloh Saw diharapkan tatanan dunia semakin membaik dan setiap ada penyimpangan dikembalikan solusinya kepada Alloh Swt dan Rasululloh Saw sebagai suri tauladan. InsyaAlloh semua permasalahan akan teratasi. Entah itu masalah seks bebas, hamil diluar nikah, narkoba, kekerasan, pembunuhan dan lain sebagainya. Hukuman yang diterapkanpun tegas dan akan memberikan efek jera bagi pelaku penyimpangan. Termasuk kepada para kapitalis yang melanggar aturan penyiaran. Wallohualam bissowab. (*)

Penulis: Siti Sopianti (Member Kajian Online MQ Lovers)

Berita terkait