OPINI—Kisah hijrahnya Rasulullah dan para Sahabat bukan lagi sesuatu yang asing di telinga masyarakat Indonesia. Sehingga momentum Hijrah dianggap sebagai refleksi mengingat betapa besarnya pengorbanan Rasulullah dan para Sahabat, dalam mempertahankan keimanan berikut syariahnya.

Hijrah menurut bahasa dapat diartikan ‘berpindah’. Bisa juga berpindah tempat. Seperti dalam kamus Al-Munawir Arab-Indonesia, berarti pindah ke negeri lain. Dapat juga diartikan berpindah keadaan, yakni dari keadaan penuh gelap menuju terang benderang.

Fenomena hijrah yang telah tren dikalangan masyarakat telah menjadi perhatian khusus. Terlebih, para pesohor negeri telah berbondong-bondong untuk berhijrah. Meninggalkan segala gemerlap dunia keartisan yang membesarkan namanya. Walau tak semua, namun cukup berpengaruh di tengah masyarakat.

Artis-artis tersebut tergabung dalam komunitas SHIFT Pemuda Hijrah, Yuk Ngaji dan Musyawarah. Derasnya arus hijrah dikalangan artis makin menguatkan esensi bahwa berubah menjadi lebih baik adalah keharusan yang harus dilakukan.

Berubah pada skala individu saja, ternyata tak cukup untuk memperoleh hidup yang lebih baik. Indonesia yang telah merdeka dari penjajahan sejak berpuluh-puluh tahun lalu. Tetapi masih menyisakan tanda tanya besar.

Pertanyaan itu muncul tatkala, penjajahan yang dianggap telah berlalu namun seluruh aspek kehidupan masih dikontrol oleh penjajah. Secara fisik memang iya, namun pada faktanya penjajahan atas ‘pemikiran‘ masih terus digencarkan hingga saat ini. Ide-ide barat telah mewarnai pemikiran bangsa. Penjajahan hanya dimaknai sebagai aksi fisik semata.

Hal inilah yang membuat negeri tetap terpuruk. Berharap negeri tercinta maju dalam segala bidang dan dapat bersaing dengan negara lain pun hanya mimpi semata.

Dikutip dari CNN Indonesia (4/8/2021) Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa bahwa berdasarkan perhitungan Bappenas, pertumbuhan ekonomi Indonesia pasca 1998 tidak pernah kembali ke skenario trajectory (tren) pertumbuhan ekonomi tanpa krisis. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi selama ini selalu macet di posisi 5 persen.

Pandemi covid-19 berdampak pada perencanaan pembangunan nasional, pergeseran target Indonesia menjadi negara maju dari 2036 menjadi 2045.

Senada, Mantan Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro juga mengatakan bahwa mimpi Indonesia menjadi negara maju harus kandas apabila pada 2045 belum lepas dari jebakan negara pendapatan menengah, (CNN Indonesia, 4/8/2021).

Benar demikian, Indonesia akan terus bermimpi jika tidak mengambil langkah fundamental untuk memperbaiki sistem kebijakannya. Jika tidak, harapan untuk menjadi negara maju hanya menjadi mimpi tak dapat direalisasikan dalam kehidupan nyata.

Dikotomi Pemikiran Barat

Momentum Kemerdekaan Indonesia saat ini, harus menjadi momentum berhijrah secara total. Berpindah kondisi, dari negara terbelakang menjadi negara maju, bahkan negara adidaya. Namun, sayang pemikiran asing yang telah terlanjur diadopsi negeri ini telah membuat mimpi tak kunjung jadi kenyataan.

Padahal SDA yang melimpah ruah dan beragam macamnya  tersedia di negeri ini. Kenyataanya, tak cukup untuk mensejahterakan rakyat dan membawa negeri tercinta menjadi negara maju.

Sistem kapitalis-sekuler membuat negeri ini makin terpuruk. SDA yang besar dikelola hanya segelintir orang asing dengan perpanjangan tangan penguasa yang culas. Lewat sejumlah kebijakan yang memuluskan aksi asing dan aseng di negeri ini.

Adanya payung hukum membuat mereka leluasa untuk menguasai sedikit demi sedikit SDA di negeri ini. Hingga tak ada ruang yang bisa dikelola negara walau hanya seujung jari.

Kalaupun ada, itu hanya sedikit dibanding apa yang dikuasai asing. Sebut saja, tambang emas di Papua saat ini dikuasai AS dengan perusahaan PT. Freeport sejak tahun 1967.

Anehnya, kontrak lahan tambang yang sudah akan berakhir, akhirnya diperpanjang hingga 2045. Apakah begitu lugunya para penguasa hingga memperpanjang kontrak?

Tidakkah mereka berpikir, jika tambang emas itu dikelola secara mandiri tentu akan sangat cukup mensejahterakan rakyat secara menyeluruh.

Sebabnya, bangsa kita masih dijajah oleh ide barat, yang tertuang pada setiap kebijakan yang bernuansa kapitalis-liberalis. Akhirnya, kemerdekaan yang diklaim telah dicapai bukanlah kemerdekaan hakiki.

Hijrah Total Menuju Kemerdekaan Hakiki

Hijrah yang saat ini dibutuhkan umat setelah hijrah individu yakni hijrah sistem. Sistem yang diterapkan negeri ini lantas tak menjadikan bangsa merdeka secara hakiki.

Ide kapitalis-sekuler masih mengatur sistem kehidupan bangsa. Jangankan memperoleh kemerdekaan secara hakiki, untuk mencapai kesejahteraan hidup saja belum menyentuh masyarakat secara menyeluruh.

Hijrah total merupakan alternatif yang dianggap terbaik untuk saat ini. Bukan hanya sekedar asumsi, namun hijrah total dapat menjawab tantangan yang dihadapi negeri saat ini. Hijrah dari sistem usang menuju sistem yang terbaik dan cemerlang.

Secara empiris, sistem Islam pernah menjadi rule model dalam mengatur seluruh aspek kehidupan. Fakta historis ini tak terbantahkan dan dapat dibuktikan.

Sejumlah riset dan peninggalan peradaban Islam yang gemilang. Dalam kurun waktu tak kurang dari 13 abad lamanya bertahan menguasai 3/4 belahan bumi di kancah internasional. Sekaligus menjadi negara superpower di tengah-tengah negara-negara saingannya.

Prof. Dr.-Ing. H. Fahmi Amhar, seorang Peniliti Utama pada Badan Koordinasi Survei & Pemetaan Nasional (Bakosurtanal), berkomentar (Al-Waie Online) terkait peradaban Islam di masa kejayaannya.

Barat meraih level yang lebih tinggi dalam etika, estetika dan logika ilmiah setelah mereka belajar dari peradaban Islam. Bunga Tulip yang dibanggakan Negeri Belanda ditiru dari Turki. Prinsip vaksin yang kini digunakan untuk menangkal berbagai penyakit menular, dibawa oleh Lady Mary Wortley Montagu (1689-1762), dari Turki ke Inggris untuk memerangi cacar ganas (smallpox).”

Namun, Inggris perlu menunggu hampir setengah abad, sampai Edward Jenner mencoba teknik itu dan menyatakan berhasil. Ilmu aviasi diketemukan oleh Abbas Ibn Firnas hampir 900 tahun sebelum Oliver & Wilbur Wright menambahkan mesin untuk pesawatnya. Mark Zuckerberg, bos Facebook, pun berterima kasih pada ilmu algoritma yang dikembangkan Al-Khawarizmi.

Sungguh fakta empiris itu harusnya membuka cakrawala berpikir kita. Dengan jujur mengakui bahwa Islam telah memberi sumbangsih besar untuk dunia. Peradaban yang tinggi untuk generasi umat manusia.

Negaranya maju dan terdepan melampaui batas pada zamannya. Mengapa demikian? Sebab, negara tersebut menjadikan Islam satu-satunya landasan dalam mengatur kehidupan.

Menerapkannya secara menyeluruh di tengah-tengah umat. Jauh dari tekanan negara lain sekalipun ia negara kuat. Sehingga rakyat benar-benar merasakan kemerdekaan yang hakiki. Merdeka fisik dan pemikiran.

Tak hanya fisik, negara pun menjaga darah, jiwa, harta dan keamanan setiap individu rakyatnya. Merdeka pemikiran, sebab hanya pemikiran Islam saja yang menjadi landasan berpikir dan bernegara.

Untuk mencapai hal demikian, maka harus ada kesadaran individu mukmin yang terbangun di tengah umat untuk melakukan hijrah total dan mendakwahkannya.

Kemudian, harus ada kesadaran kolektif yang tumbuh di tengah masyarakat. Mengingatkan sesama untuk menyeru kepada kebaikan dan mencegah kepada kerusakan dengan landasan aqidah Islam.

Terakhir, adanya aturan dan kebijakan yang benar untuk mendorong kemajuan dari semua aspek kehidupan. Kemajuan pun dipandang sebagai wasilah untuk menebar kebaikan keseluruh penjuru alam.

Dengan demikian, harapan untuk menjadikan Indonesia merdeka secara hakiki baik secara fisik ataupun pemikiran dapat direalisasikan. Menjadi negara maju bahkan terdepan bukan isapan jempol.

Ketika Indonesia benar-benar ingin berhijrah secara total. Meninggalkan hukum buatan manusia (ide barat) dan mengambil hukum dari Sang Pencipta Alam Semesta. Maka terwujudlah harapan bangsa, yakni negeri baldatun thayyibah wa rabbun ghafur. Wallahu’allam bish-showwab. (*)

Penulis: Nurmia Yasin Limpo, S.S (Pemerhati Sosial Masyarakat)

***

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.