Adapun faktor eksternal, terbagi atas tiga aspek yaitu keluarga, lingkungan dan negara.
Pertama, Keluarga adalah tempat pendidikan pertama bagi remaja sejak usia dini hingga dewasa yang berpengaruh terhadap kepribadian anak. Generasi beriman dan bertakwa akan sulit terbentuk jika paradigma keluarga dalam mendidik anak adalah sekuler kapitalistik. Maka akan melahirkan generasi sekuler yang hanya berorientasi pada kesuksesan dunia.
Kedua, Siklus pertemanan yang muncul dari lingkungan sekolah dan masyarakat menunjukkan eksistensi diri yang terbentuk berasaskan pada kebebasan, tren budaya viral di sosmed menjadi acuan melakukan aksi meski berbahaya. Sungguh menyesakkan kondisi pemuda, aksi brutal dan berbahaya senantiasa menghiasi potret pemuda sebab tidak memiliki visi hidup yang jelas.
Ketiga, Adanya pihak kepolisian maupun pemerintah yang disediakan negara untuk melakukan pengawasan terhadap kenakalan pemuda hanya merupakan bentuk kuratif ketika aksi telah dilakukan hingga memakan korban. Sehingga kasus yang sama terus terjadi, namun penyebab permasalahan tidak menjadi fokus penyelesaian bahkan terabaikan. Hal ini membuktikan bahwa negara tidak memiliki visi penyelamat generasi.
Upaya pencegahan seharusnya dilakukan negara untuk melindungi generasi dari gaya hidup sekuler yang merusak kepribadian pemuda. Sehingga generasi tidak mudah mengikuti kemana arus bertiup tetapi mustahil tewujud ketika agama dipisahkan dari kehidupan. Sistem sekuler telah mengaburkan pemuda dari identitas diri dan visi hidup sebagai hamba Allah yang beriman dan bertakwa.
Generasi Gemilang dalam Islam
Pembentukan generasi gemilang lahir dari penerapan sistem kehidupan Islam kafah melalui tiga peran sentral yang saling bersinergi diantaranya sebagai berikut:
Pertama, keluarga dalam hal ini orang tua merupakan ujung tombak lahirnya bibit unggul generasi. Pengasuhan dengan paradigma Islam dapat mengukuhkan keimanan dan kecintaan yang tinggi kepada Allah dan Rasul-Nya sehingga terbentuk ketakwaan yang dapat mencegahnya dari berbuat maksiat.
Kedua, masyarakat dalam sistem Islam membentuk lingkungan sosial yang positif dan perilaku masyarakat selalu kondusif. Sebagai kontrol sosial melakukan amar makruf nahi munkar mengajak pada ketaatan maka akan tercipta suasana positif pada anak. Akhirnya eksistensi diri yang terbentuk dalam siklus pertemanan mereka berasaskan ketaatan.
Ketiga, Negara memiliki peran krusial dalam melindungi dan membentuk kepribadian generasi dengan menyelenggarakan pendidikan secara komprehensif. Membangun kepribadian Islam dengan cara menanamkan akidah, pemikiran, dan perilaku Islami kedalam akal dan jiwa anak sehingga kurikulum pendidikan harus berbasis akidah Islam.
Pendidikan dalam Islam mempersiapkan anak-anak kaum muslim menjadi ulama-ulama yang ahli disetiap aspek kehidupan baik ilmu keislaman (faqih fiddin) maupun ilmu terapan (saintek). Pada masa Kejayaan Islam banyak lahir generasi cemerlang yang unggul. Keberanian dan energi pemuda disalurkan dengan benar untuk mendakwahkan islam.
Pemuda muslim mempunyai sifat pemberani sebagaimana dicontohkan oleh pemuda terdahulu yang gagah berani berjihad di medan perang membela agamanya.
Ada Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Mush’ab bin Umair, dan Usamah bin Zain dan Muhammad Al-Fatih sang penakluk Konstatinopel pada usia 21 tahun dengan pasukan terbaiknya.
Pemuda muslim dengan pemikiran cemerlang dan keberaniannya, niscaya mampu bangkit dan mengobarkan semangat perjuangan Islam. (*)
Penulis: Sri Har Wulan Suci (Pegiat Literasi)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.













