Belajar untuk peka biasanya dimulai dari diri kita sendiri, bagaimana kita mengamati lingkungan kita. Pertanyaan yang muncul biasanya dalam diri kita, kita melakukan ini apakah salah. Hal ini juga bisa dikatakan salah satu contoh kepekaan yang ada dalam diri kita sendiri.
Ketakutan akan berbuat salah seperti contoh diatas merupakan salah satu contoh sikap peka yang ada dalam diri kita. Manusia setiap hari hidup tidak lepas dari pikiran, karena tanpa berpikir manusia tidak akan bisa dihargai oleh orang lain.
Misalnya saja orang yang gila, karena pikiran nya terganggu maka dianggap tidak ada oleh orang lain. Ketika kita manusia normal yang tidak peka terhadap lingkungan kita. Maka hal ini perlu ditingkatkan untuk kedepan nya agar kita peka terhadap lingkungan kita. Kita hidup tidak boleh asal mau kita saja, karena orang yang berakhlak tentu lebih berharga daripada orang yang berilmu.
Kepekaan juga tidak terhadap lingkungan yang ada di sekitar kita saja, bisa juga kepekaan terhadap perasaan manusia. Misalnya ada orang yang menyukai kita, kita tidak boleh semena-mena terhadap orang lain.
Jaga perasaan orang tersebut, karena peka terhadap orang lain secara individu menurut penulis adalah salah satu cara belajar untuk peka terhadap lingkungan dalam konteks yang lebih besar.
Dimulai dari peka terhadap perasan seseorang, maka melanjutkan dengan peka terhadap lingkungan. Itu harus kita terapkan agar hidup kita dipandang serta berakhlak oleh orang lain.
Untuk itu kita perlu peka terhadap lingkungan, dimulai dari peka terhadap teman kita, pasangan kita, kelompok kita baru kita peka terhadap masyarakat. Ketika kita terjun ke masyarakat, salah satu cara yang paling penting dan wajib dilakukan adalah peka, karena dalam masyarakat ketika melihat orang baru, orang akan bertanya-tanya dan juga orang akan melihat bagaimana sikap kita.
Peka merupakan salah satu sikap yang amat baik dilakukan agar terhindar dari masalah. Karena dengan tidak peka bisa akan menjadi masalah di kemudian hari. Jangan pernah kita meninggi karena alasan kita lebih hebat dari masyarakat, karena lingkungan adalah tempat yang paling baik untuk mendidik kita. (*)
Tentang penulis
Penulis Adalah Abdul Jamil Al Rasyid Lahir Di Padang Pariaman, Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau Universitas Andalas, Anggota Lembaga Mahasiswa Jurusan (Lmj) Sastra Minangkabau, Penulis Pernah Menerbitkan Tulisan Di Berbagai Media 34 Provinsi Indonesia, Penulis Sekarang Berdomisili Di Padang Pariaman, Sumatera Barat, Santri Pondok Pesantren Madinatul Ilmi Nurul Ikhlas Patamuan Tandikek
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.













