Beranda » Opini » Ekonomi Bangsa di Ujung Tanduk, Ancaman Nyata Bagi Negeri
Ekonomi Bangsa di Ujung Tanduk, Ancaman Nyata Bagi Negeri
Siti Nurul Hidayah, Aktivis Muslimah dan Mahasiswa Makassar. (foto: pribadi)
Opini

Ekonomi Bangsa di Ujung Tanduk, Ancaman Nyata Bagi Negeri

OPINI – Dikutip pada laman CNBC Indonesia, Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya akan tumbuh 5% di 2019 ini. Angka ini turun dari prediksi April lalu, yakni 5,1%.

Bank dunia menyatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mengalami masa-masa ekonomi sulit hingga tiga tahun ke depan. Target pemerintah, pertumbuhan ekonomi 5,3% pun tak akan tercapai.

Bank dunia mengestimasi pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 4,9% pada tahun 2020 dan terus melemah hingga 4,6% pada tahun 2022.

Data tersebut dianggap wajar sebab dunia sedang mengalami resesi ekonomi, di mana tahun depan pertumbuhan ekonomi Cina menurun menjadi 5,8 persen dari 6,5 persen.

Pertumbuhan ekonomi global menurun menjadi 3 persen dari 3,3 persen. Pertumbuhan ekonomi Singapura mitra utama Indonesia hanya 1 persen dan menuju 0 persen.

Indonesia berada dalam situasi yang sama, pertumbuhan ekonomi rendah dan mengarah pada ke kriris disebabkan defisit di semua lini.

Inilah resesi ekonomi jeratan kapitalis, buah krisis laten yang senantiasa dipertontonkan negara-negara maju sebagai kemajuan dan kesuksesan.

Ternyata menyimpan banyak kebobrokan yang mengakar pada asasnya. Bukan hanya menimpa negara besar seperti AS dan Cina, tapi juga rezim boneka di negara berkembang yang tak kalah mengerikan.

Di negeri muslim, rakyat menderita krisis akibat semua rezim adalah perpanjangan tangan kepentingan kapitalis global.

Di Irak dan Mesir misalnya, rakyatnya turut memprotes kebijakan pemerintah yang terjangkit kasus korupsi namun terlindung dari jeratan hukum.

Aksi tersebut adalah akumulasi kemarahan rakyat yang tak mendapat kelayakan hidup dan lebih miris lagi aksi di Iran memakan korban pengunjuk rasa hingga mencapai 250 orang per 1 Oktober lalu.

Di Indonesia sendiri, masalah ekonomi seakan ditutupi dengan isu deradikasasi yang dianggap paling berbahaya.

Hal ini seakan membenarkan apa yang menjadi cuitan Rizal Ramli di akun twitternya beberapa waktu silam.

Menurut Menko Perekonomian era Abdurahman Wahid ini mengatakan bahwa setahun ke depan agaknya akan digoreng terus isu 3R (Radikalisasi, Radikulisasi & Radikolisasi) supaya soal-soal ekonomi, kemiskinan, soal-soal sosial lain menjadi tidak penting.

Ternyata benar, kondisinya yang terjadi justru relevan dengan realitas hari ini. Kabinet pemerintahan Jokowi Jilid II sifatnya pun tidak jauh berbeda dengan kabinet sebelumnya.

Sebagian besar masih diduduki oleh wajah lama dalam bidang perekonomian, jelas menunjukkan bahwa kabinet ini belum menjadi respon menyeluruh atas situasi resesi yang mengarah pada penyelesaian krisis. Seharusnya Indonesia lebih memikirkan strategi politik ekonominya dalam hal ini.

Selama Indonesia masih kekeuh menggunakan mekanisme kapitalistiknya dalam meriayah kepentingan bangsa maka nasibnya tidak akan berbeda dengan negara-negara yang disebutkan di atas.

Kebijakan paling memungkinkan untuk menghadapi resesi ekonomi yang terjadi adalah menaikkan harga barang public (public goods) seperti BBM, LPG, TDL, tarif transportasi, dll.

Selain itu, untuk mencari topangan dana demi menghadapi resesi, akan banyak pungutan negara yang bersifat memaksa seperti pungutan BPJS.

Jika masyarakat tidak menurut maka akan dipidana atau dipenjarakan. Jelas, kebijakan ini akan membebani dan menyiksa rakyat.

Sudah saatnya mencari solusi lain atas permasalahan negeri, jika kita berkutat pada perkara cabang tanpa pernah menyentuh akar permasalahan sudah pasti hasil yang ditimbulkan akan mengulang problem yang sama.

Allah swt. pernah mengingatkan kita dalam firmannya: “Betapa banyaknya negeri yang telah kami binasakan, maka datanglah siksaan kami (menimpa penduduknya) di waktu mereka berada di malam hari, atau di waktu mereka beristirahat di tengah hari. Maka tidak adalah keluhan mereka di waktu datang kepada mereka siksaan kami, kecuali mengatakan, ‘Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang zalim.” (TSQ Al A’raf : 4-5)

Cukuplah Al-qur’an telah mengingatkan akan masa depan dunia dan nasib bangsa jika aturan-Nya tidak diterapkan di muka bumi.

Rezim yang mendiskriminasikan ajaran Islam perlu berkaca dengan apa mereka bisa memperbaiki kondisi bangsa jika bukan kembali kepada aturan yang mampu menyelamatkan dunia dengan solusi Islam Kaffah. (*)

Ekonomi Bangsa di Ujung Tanduk, Ancaman Nyata Bagi Negeri
Penulis : Siti Nurul Hidayah
(Aktivis Muslimah dan Mahasiswa Makassar)

Topik