PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya. • 🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692. • TP PKK Makassar Bentuk Koperasi, Bidik Pasar Produk UMKM Kader • Setahun Menjabat, Munafri Siapkan Evaluasi dan Rotasi Lurah Makassar • Andi Sudirman Ingin Pelatihan Vokasi Sulsel Berujung Lapangan Kerja • BK DPRD Sulsel Dorong Disiplin Anggota Lewat Apresiasi, Bukan Sekadar Sanksi • LPG 3 Kg Sulit Didapat di Bone, Pangkalan Diduga Langgar Mekanisme Penyaluran • 67 Guru Jeneponto Disiapkan Jadi Penggerak Program 1 Juta Guru Mahir Koding • PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya. • 🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692. • TP PKK Makassar Bentuk Koperasi, Bidik Pasar Produk UMKM Kader • Setahun Menjabat, Munafri Siapkan Evaluasi dan Rotasi Lurah Makassar • Andi Sudirman Ingin Pelatihan Vokasi Sulsel Berujung Lapangan Kerja • BK DPRD Sulsel Dorong Disiplin Anggota Lewat Apresiasi, Bukan Sekadar Sanksi • LPG 3 Kg Sulit Didapat di Bone, Pangkalan Diduga Langgar Mekanisme Penyaluran • 67 Guru Jeneponto Disiapkan Jadi Penggerak Program 1 Juta Guru Mahir Koding •
Opini

Tingginya Angka Pengangguran, Tumbal Ekonomi Kapitalisme

2494
×

Tingginya Angka Pengangguran, Tumbal Ekonomi Kapitalisme

Sebarkan artikel ini
Tingginya Angka Pengangguran, Tumbal Ekonomi Kapitalisme
Hijrawati Ayu Wardani, S.Farm., M.Farm

Masyarakat hanya perlu pekerjaan agar kebutuhan mereka dapat terpenuhi. Namun, spirit swasta dalam memberikan pelayanan adalah spirit bisnis. Walhasil, pelayanan tersebut berorientasi pada dua hal, yakni untung dan rugi.

Konsekuensi dari hal tersebut adalah saat masyarakat hendak memenuhi kebutuhannya, mereka harus mengeluarkan biaya yang lebih besar. Rakyat tetap harus mengeluarkan biaya saat menggunakan fasilitas umum yang pengurusannya telah beralih ke swasta.

Dua hal yang menyedihkan dari realitas ini adalah pertama, negara berlepas tangan dalam mengurusi rakyatnya. Kedua, kebijakan yang memperlebar masuknya pihak swasta ini memanfaatkan dunia pendidikan. Pemerintah mengarahkan para intelektual untuk mengabdikan ilmu mereka kepada pemodal, bukan masyarakat. Sungguh miris kebijakan yang lahir dari paradigma kapitalistik ini.

Masalah pengangguran ini akan mudah diselesaikan oleh Islam sebagai agama yang sempurna. Selain itu, Allah melalui Rasul-Nya sudah berpesan untuk selalu mengambil Islam dalam menyelesaikan berbagai masalah.

Allah Swt. berfirman dalam QS An-Nisa: 65, “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”

Bagaimana Islam Mengentaskan Pengangguran?

Islam memberikan tugas kepada pemimpin untuk mengurusi rakyatnya, termasuk menyediakan lapangan pekerjaan. Diceritakan oleh Anas bin Malik, “Suatu ketika ada pengemis yang datang menemui Rasulullah saw., Lalu beliau bertanya kepada pengemis tersebut, “Apakah kamu mempunyai sesuatu di rumahmu?” Pengemis itu menjawab, “Tentu, saya mempunyai pakaian yang biasa dipakai sehari-hari dan sebuah cangkir.”

Rasulullah saw. langsung berkata, “Ambil dan serahkan ke saya!” Lalu pengemis itu menyerahkannya kepada Rasulullah, kemudian Rasul menawarkannya kepada para sahabat, “Adakah di antara kalian yang ingin membeli ini?” Seorang sahabat menyahut, “Saya beli dengan satu dirham.”

Rasul menawarkannya kembali. “Adakah di antara kalian yang ingin membayar lebih?” Lalu ada seorang sahabat yang sanggup membelinya dengan harga dua dirham. Rasulullah saw. menyuruh pengemis itu untuk membelanjakannya makanan untuk keluarganya dan selebihnya, Rasul menyuruhnya untuk membeli kapak.

Rasulullah saw. bersabda, “Carilah kayu sebanyak mungkin dan juallah, selama dua pekan ini aku tidak ingin melihatmu.” Sambil melepas kepergiannya Rasulullah pun memberinya uang untuk ongkos. Setelah dua pekan pengemis itu datang kembali menghadap Rasulullah sambil membawa uang sepuluh dirham hasil dari penjualan kayu.

Lalu Rasulullah menyuruhnya untuk membeli pakaian dan makanan untuk keluarganya, seraya bersabda, “Hal ini lebih baik bagi kamu, karena meminta-meminta hanya akan membuat noda di wajahmu di akhirat nanti. Tidak layak bagi seseorang meminta-minta kecuali dalam tiga hal, fakir miskin yang benar-benar tidak mempunyai sesuatu, utang yang tidak bisa terbayar, dan penyakit yang membuat seseorang tidak bisa berusaha.” (HR Abu Daud).

Dari hadis tersebut terlihat jelas bagaimana seharusnya seorang pemimpin mengurusi rakyatnya. Ia harus mencari solusi agar rakyat tidak lagi menganggur, meminta-minta, bahkan melakukan kejahatan. Jadi, pemimpin (negara) harus membuka lapangan pekerjaan, menyediakan fasilitas, ataupun memberikan modal (tanpa riba).

Selain itu, negara juga akan membuka iklim investasi di sektor riil dan mengharamkan investasi dan usaha di sektor nonriil. Negara akan menjaga agar tidak ada persaingan yang tidak sehat. Dengan  begitu, rakyat akan mudah mendapatkan pekerjaan yang halal.

Tidak menutup kemungkinan ada orang-orang yang malas dalam berusaha. Negara akan menghadapi mereka dengan memahamkan kewajiban dan kedudukan bekerja bagi laki-laki hingga memberikan keterampilan khusus. Melihat keseriusan Islam dalam menanggulangi pengangguran, masihkah jika berharap pada sistem demokrasi kapitalisme? Wallahu a’lam bi ash shawab. (*)

 

Penulis: Hijrawati Ayu Wardani, S.Farm., M.Farm (Dosen & Pemerhati Sosial)

 

***

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.

Polling Mediasulsel

Menurut Anda, masalah yang paling perlu diprioritaskan pemerintah saat ini adalah...

Konten dilindungi © Mediasulsel.com